October 16, 2007

Arsitek dan Perpustakaan kita

Pengantar Tugas Akhir Proyek Perpustakaan di Jakarta Barat

Telah 61 tahun bangsa Indonesia merdeka, selama itu pula segala upaya untuk mencerdaskan kehidupan bangsa terus dilakukan. Salah satunya adalah dengan menumbuhkan minat baca masyarakat. Dalam hal ini, perpustakaan memegang peran yang sangat penting. Namun tidak sampai 7% dari jumlah penduduk Indonesia pada tahun 1998 yang merasakan bahwa perpustakaan berperan penting dalam kehidupan mereka (J.P. Rompas, 1998).

Seperti yang tertuang di Rencana Undang-undang Perpustakaan RI pasal 3 dan 4 tentang tujuan perpustakaan, perpustakaan menjadi bagian dari sebuah daerah sebagai pendukung pendidikan untuk meningkatkan budaya dan gemar membaca pada masyarakat, kebutuhan ini juga harus menjadi perangkat pendukung sebuah kota, seperti yang tertuang pada pasal 7 dan 8 pada undang-undang tersebut dimana pemerintah nasional dan pemerintah daerah berkewajiban dan berwenang untuk menentukan kebijakan dalam pembinaan dan pengembangan perpustakaan di semua daerah indonesia termasuk di daerah terpencil.

Perpustakaan berfungsi sebagai sarana untuk meningkatkan kecerdasan dan pemberdayaan bangsa melalui transformasi informasi, penelitian, pelestarian budaya bangsa, dan rekreasi ilmiah. Perpustakaan bertujuan memberikan layanan kepada pemustaka, meningkatkan kegemaran membaca, memperluas wawasan dan pengetahuan untuk mencapai tujuan pendidikan nasional. (RUU Perpus RI, 2007)

Sesuai dengan arah perkembangan perkotaan dan permukiman abad 21 yang dibahas pada pertemuan ASEAN, febuari 2006, bahwa peningkatan pendidikan dirasa penting sebagai bidang penting dalam arah perkembangan suatu negara. di dukung oleh data yang dikeluarkan Badan Pusat Statistik (BPS) pada 2006. Masyarakat kita belum menjadikan kegiatan membaca sebagai sumber utama mendapatkan informasi. Orang lebih memilih menonton TV (85,9%) dan/atau mendengarkan radio (40,3%) ketimbang membaca koran (23,5%) (www.bps.go.id), maka peran perpustakaan bisa meningkatkan minat baca dan pendidikan diluar institusi pendidikan formal seperti sekolah.

Padahal sejarah mengajarkan bahwa bangsa yang maju adalah bangsa yang yang gemar membaca. Karena otomatis kecerdasan dan wawasan iptek kian bertambah sehingga terjadi peningkatan kualitas Sumber Daya Manusia (SDM) yang diperlukan untuk upaya pembangunan yang berkesinambungan. Marilah berkaca pada Jepang yang pada masa Restorasi Meiji (tahun 1800-an) melakukan program penerjemahan buku besar-besaran. Buku-buku yang pekan ini terbit di Amerika, negara adikuasa yang mengalahkan sekaligus menjadi induk semang Jepang pasca Perang Dunia II, pada pekan berikutnya sudah terbit di Jepang dalam versi terjemahannya. Alhasil, Jepang sangat cepat menyerap teknologi dan inovasi mutakhir dari negara-negara Barat dan tumbuh pesat setelah luluh-lantak dibom atom pada 1945 menjadi pesaing ekonomi Amerika mulai 1960an hingga saat ini.

Seiring dengan munculnya media baru, perpustakaan terlihat kian terpinggirkan, benteng itu kemudian diambil alih dan dirampok oleh banyaknya teknologi baru, dimana perangkat elektronik menjadi barbar. Ketidakpahaman, sifat yang mengancam, dan aksesbilitas yang terbatas dari teknologi menjadi bentuk dari kehilangan tempat dan tradisi dari sebuah perpustakaan. Dalam respon ini, sebuah perpustakaan menjadi defensif dan menjadi sulit menyatakan superiornya dalam misinya, tanggung jawab sosial, dan nilai yang terkandung di dalamnya.

Dalam dekade terakhir yang telah terlewati, telah banyak terjadinya percepatan erosi area publik yang tergantikan oleh merangkak naiknya bentuk-bentuk ruang privat yang menarik dan menggoda.

Esensi dari ruang publik adalah karena kebebasannya.

Secara meningkat, ruang-ruang publik telah tergantikan dari akumulasi dari ”tipuan wujud ruang publik”, Dimana ketika sebuah ruang menyarankan keterbukaan, tetapi justru membuat anda harus membayar. Perpustakaan kemudian berdiri menjelaskan bahwa dirinya telah usang secara moral, usang telah menjadi tempat penyimpanan dari kebebasan dan kepublikannya. (Content/OMA)

Dari artikel diatas, diharapkan perpustakaan akan memfasilitasi “ledakan informasi” yang terjadi di era globalisasi ini, dimana pada akhirnya perpustakaan tidak hanya identik dengan “buku”, tetapi menyediakan segala akses yang berhubungan dengan pengadaan informasi. Disamping itu, karena tidak dapatnya perpustakaan dalam meningkatkan layanan informasi terhadap teknologi yang semakin maju dan terlebih, kurangnya sifat kepublikan dari perpustakaan sebagai tempat mencari informasi yag bebas diakses oleh siapa saja, menjadikan perpustakaan kian jauh dari citra masyarakat sebagai tempat yang menyenangkan dalam mengakses informasi.

Perpustakaan umum/kota akan senantiasa memainkan peran penting sebagai jembatan menuju penguasaan ilmu pengetahuan. Ia memberi kontribusi penting bagi terbukanya informasi tentang ilmu pengetahuan. perpustakaan adalah lembaga investasi masa depan, yang berarti juga investasi kemakmuran masa depan. Karena itu, butuh kepedulian penuh dari pemerintah untuk mengembangkannya.

Perpustakaan umum/kota teramat penting bagi kehidupan kultural dan kecerdasan bangsa karena perpustakaan umum/kota adalah satu-satunya pranata kepustakawanan yang bisa di raih umum. (Sulistyo-Basuki, 1993). Bahkan karena pentingnya, UNESCO membuat sebuah Manifesto Perpustakaan Umum yang harus dijadikan pedoman negara-negara dalam membuat dan merumuskan perundang-undangan perpustakaan umum/kota

Selaku Arsitek, sudah seharusnya kita ikut andil dalam permasalahan ini. Dengan menciptakan sebuah perpustakaan sebagai wadah informasi yang baik dan sesuai dengan apa yang dibutuhkan oleh masyarakatnya dan lingkungan sekitarnya. Diharapkan perpustakaan dengan pendekatan perancangan kota dapat mengkomunikasikan bangunan perpustakaan ini sebagai bagian dari kota sebagai pusat informasi. Selain itu dengan mengkolaborasikan perancangan kota dan perancangan arsitektur diharapkan dapat menyelaraskan fungsi perpustakaan sebagai bangunan publik sesuai dengan fungsinya. Segala kekurangan yang ada pada perpustakaan-perpustakaan saat ini dapat menjadi pembelajaran untuk kemudian terciptanya perpustakaan baru yang sesuai dengan perkembangan zaman dan teknologi serta sesuai dengan gaya hidup masyarakat saat ini, sehingga diharapkan dapat meningkatkan tingkat baca masyarakat Indonesia.

Paskalis khrisno Ayodyantoro