October 17, 2007

Kampung Susun

Rumah susun sederhana bawah

Sebuah Pendahuluan

ketika suatu siang yang cerah, tahun 1987 di kampung dekat pinggir kali jakarta, tiba-tiba dikejutkan dengan datangnya segerombolan manusia yang terlihat seperti angin puting beliung yang akan menghancurkan segala benda yang berada didepannya. dengan berpakaian rapi dan terlihat segan mereka mulai berkecamuk menghancurkan kampungnya hingga luluh lantah. Tidak ada yang tersisa rumah kumuh dan aktifitas yang tinggal setelahnya, hanya ada orang-orang memunguti sisa-sisa reruntuhan dari bangunan mereka.

Mereka yang tinggal disitu terlihat sedih ketika rumah yang menjadi saksi hidup dan tepat mereka bernaung selama ini hancur berantakan. Ya! Mereka sedih, namun tidak tampak kekecewaan terpancar dari mata mereka, justru harapan baru lah yang muncul terlihat darinya. Mereka berharap bahwa pemerintah akan menggantikan rumah mereka di tempat baru yang lebih baik lagi. Terhindar dari banjir dan penyakit yang selama ini mereka rasakan karena tinggal dipinggir kali ciliwung. Sebuah program baru tentang rumah susun. Rumah susun adalah kata baru bagi mereka pada saat itu dimana menurut undang-undang rumah susun adalah hunian vertikal yang ditujukan bagi masyarakat kelas menengah bawah dengan fasilitas pendukungnya. Apakah mereka mengetahui program ini dengan jelas? Belum, karena program ini baru mulai dilaksanakan untuk menanggapi kebutuhan tempat tinggal bagi kelas menengah bawah pada zamannya, sehingga mereka hanya bisa menerima apa adanya ketika program ini dijalankan. Beruntung mereka, karena sebelum rumah susun ini terbangun, mereka mendapatkan relokasi tempat tinggal.

20 tahun berlalu, kini rumah susun bidara cina, masih berdiri lengkap dengan kesemrawutan ciri kumuh dan aktifitasnya masih bisa dikatakan sangat tinggi dengan okupansi sekitar 98% dari sekitar 1000 unitnya. Bagi orang yang tinggal di rumah susun ini, mereka telah merasakan sebuah hunian baru dengan jawaban vertikal. Namun yang sangat terasakan pada rumah susun ini adalah kebudayaan atau kebiasaan mereka ketika tempat tinggal mereka melekat dengan tanah hingga sekarang, bisa dillihat kembali ketika mereka pindah kerumah susun. Kebiasaan-kebiasaan untuk berkumpul adalah ciri khas mereka. Kebiasaan ini terlihat di gang-gang yang ada, lapangan besar dan di hall. Sepertinya mereka asyik bercengkrama, bergosip dan tertawa bersama dengan tetangganya, lain halnya dengan apartemen-apartemen bonafid di jakarta yang terlihat ekslusif dan individual. Ruang-ruang yang sebelumnya hanya menjadi koridor dan gang bisa menjadi tempat mereka bersosialisasi.

Kebutuhan-kebutuhan untuk bisa bersosialisasi sepertinya memegang peranan dalam desain rumah susun dalam menentukan barometer kehidupan rumah susun. Tetapi kebutuhan ini ternyata hanya satu contoh dari kebutuhan-kebutuhan lain yang dibutuhkan ketika memindahkan sebuah kampung ke satu hunian vertikal. Dari kebutuhan satu ini, terlihat bahwa dibutuhkan suatu kreatifitas dalam menangani desain ruang-ruang yang dapat memenuhi keragaman budaya yang dibawa oleh masing-masing keluarga atau individu yang menempatinya, dan mutlak, ternyata hal ini adalah yang paling sulit.

Dari sekian banyak masyarakat indonesia khususnya jakarta yang telah mencapai lebih dari 2 juta orang, banyak dari mereka, menginginkan hunian murah yang tidak tergantung dari desain melainkan dari lokasinya diikuti dengan kelengkapan fasilitas. Pertimbangan ini menjadi penting sehingga dalam mendesain berikutnya adalah bagaimana menghasilkan sebuah bangunan baik dengan program yang baik tanpa harus memoles dan membedakinya sehingga terlihat anggun ditengah kepadatan jakarta. Seberapa cukup adalah cukup menjadi salah satu faktor dalam menggunakan metode perencanaan desain ini. Ketepatan analisa lokasi sehingga meminimalisasi efek datangnya sebuah raksasa atau alien baru menjadi faktor dominan dalam pembangunan rumah susun ini.

Pada dasarnya sasaran rumah susun ini menjadi sebuah pertanyaan besar bagi saya. Kalangan menengah? Rupanya kelas sosial di indonesia khususnya jakarta memiliki sebuah lubang hitam para antropolog dan sosiolog karena ragamnya pendapat saling silang antar penulis, dan ahlinya. Sasaran ini juga menjadi rancu dalam haknya untuk memilih jenis bangunan yang menjadi huniannya dikaitkan dengan undang-undang. lalu bagaimana kita bisa menempatkan sebuah kelas yang tidak seharusnya masih bisa mendapatkan huniannya?

Salah satu pembagian kelas sosial di jakarta terdiri dari kelas bawah, menengah bawah, menengah, menengah atas, dan atas. Secara gamblang bawah itu miskin, dapat jatah 100 ribu dari pemerintah, menengah bawah itu punya upah sesuai umr tapi kebutuhannya melebihinya, menengah itu mapan, udah cukup, menengah atas itu udah bisa beli 2 mobil bisa keluar negeri, dan kelas atas itu udah punya pulau. Ya berarti tanpa memperdebatkan, berarti menegah itu adalah kelas sosial dalam tingkatan ekonomi yang sudah mapan. Penempatannya dalam rumah susun menjadi sebuah pertanyaan? Mungkin karena sensitifnya tingkatan ekonomi di jakarta sehingga yang mapan kadang-kadang harus merendah untuk bisa dibilang setiakawan dengan lingkungan bawah. Gitu aja kok repot?

Pada akhirnya sebuah arsitektur yang baik ditentukan oleh isi, konteks dan desain. Dimana isi adalah suatu metode baru dalam menemukan program-program baru sehingga bisa memenuhi kebutuhan penghuninya dengan jelas dan baik. Sesuai konteks adalah penyelesaian bangunan terhadap letaknya yang menyangkut kebudayaan, ciri khas, tempat dan tentunya iklim setempat sehingga terjadinya program berkelanjutan. Dan visualisasi bangunan sehingga bisa menambah khazanah sebuah detail arsitektural yang merangkum dasar-dasar kebutuhan yang ada.

Desain

adalah hunian vertikal yang berusaha memberikan jawaban atas cara hidup dan keiasaan masyarakat kampung pada umumnya. kesulitan dalam hunian masal seperti rumah susun adalah adanya keragaman budaya yang seharusnya dapat terwadahi dalam ruang yang tepat. kebiasaan-kebiasaan dasar masyarakt jakarta untuk berkumpul, bertemu sapa, dan bersosialisasi diusahakan terwadahi dalam ruang-ruang komunal yang tercipta diantara unit hunian yang ada. sementara kebutuhan masyarakat yang terus berkembang atas kebutuhan ruang diselesaikan dengan ruang yang dapat diperbesar atau diperluas unitnya.

bentuk dasar bangunan ini adalah hasil dari program yang dibutuhkan sebagai hunian serta menjawab masalah iklim dan lingkungan setempat. alur bentuk tapak yang ada membuat bentuk bangunan ini mengikuti bentuk tapak yang ada. terletak dipojok jalan kemanggiasan raya dan rawa belong yang selalu macet pada jam-jam sibuk membuat bangunan ini harus mundur dari pojok jalan dan membuat bukaan sebagai ruang penerima yagn diharapkan memberi efek psikologis sehingga pojok jalan akan terasa lebih lapang. adanya kebutuhan julah unit memaksa bangunan ini untuk memiliki 3 masa dasar yang terhubung dengan ruang publik di lantai dasar bangunan. bangunan kedua dengan masa lebih rendah diharapkan untuk memberikan vista yang lebih pada penghuni dilantai 6 ke atas. unit keluarga dapat di letakkan pada bangunan yang dibuat condong, agar masing-masing unit dapat memiliki taman pribadi.

kebutuhan kebutuhan ruang penunjang bangunan ini kemudian diletakkan pada lantai dasar sehingga terciptanya pemisahan area publik dan privat secara vertikal. biaya yang mahal dalam pembuatan basement akhirnya di akali dengan pembuatan parkir lift pada dasar bangunan. dan untuk menggantikan ruang terbuka hijau, maka dibuat taman di lantai pertama sehingga bisa dijadikan ruang sosialisasi antar penghuni.

Paskalis Khrisno Ayodyantoro

Studio Perancangan Arsitektur 6, 2006