August 28, 2008

-oa_sekota1_01-

Kurangnya Ruang terbuka hijau

dengan luas kota yang mencapai 167 km2 idealnya bandung memiliki luas ruang terbuka hijau seluas 66 km2. tapi pada kenyataannya luas ruang hijau di kota bandung sekarang ini hanya sekitar 2.5 km2. sangat jauh dari angka ideal.

ketidakmampuan pemerintah kota untuk mengendalikan perkembangan kota, membuat banyak ruang terbuka hijau di bandung hilang, terkonversi menjadi pusat-pusat perbelanjaan, pusat perkantoran, atau pusat-pusat lainnya yang beroirentasi mencari keuntungan namun pada akhirnya menambah kehancuran tata dan ekologi kota.

keadaan ini kini menimbulkan konsekuensi ruang kota yang cukup fatal. ruang-ruang tempat dimana penduduk bandung bisa menikmati kota secara cuma-cuma kemudian hilang. terganti mall dan pusat-pusat pencari keuntungan lainnya. kota tidak bisa dinikmati dan akhirnya bandung berjalan pelan-pasti menuju kota yang tidak humanis.

-oa_sekota1_01-

sebagai reaksi atas hal ini, project -oa_sekota1_01- ini berusaha untuk memberikan suntikan ruang terbuka hijau pada daerah yang memiliki aktivitas tinggi di kota bandung.

ruas jalan Sultan Agung-Trunojoyo-R.E.Martadinata adalah ruas jalan dengan konsentrasi distro dan factory outlet yang cukup banyak. setidaknya ada sekitar 15 distro, 3 factory outlet yang cukup besar dan satu pusat perbelanjaan. belum lagi banyaknya restoran dan jajanan kaki lima di sepanjang jalan itu.

sebagai area yang menyedot banyak konsentrasi massa yang cukup tinggi, area ini memiliki sedikit sekali ruang komunal cuma-cuma dan ruang terbuka hijau. dalam hitung-hitungan kasar yang masih bisa di perdebatkan, dalam radius 500.000 m2 sekitar jalan Sultan Agung-Trunojoyo-R.E.Martadinata hanya ada sekitar 74635 m2( luas ini menyusul) ruang hijau. ini berarti hanya 0.14% dari luas daerah yang di hitung.

Ruang Terbuka Asuh

ide dasar dari project ini adalah membuat sebuah struktur baru diatas ruas jalan Sultan Agung-Trunojoyo-R.E.Martadinata. kami melihat ruas jalan sebagai ruang publik terbesar di kota bandung, dan kami menganggap ruang diatas jalan sebagai ruang dengan potensi konflik terkecil jika ingin di intervensi.

struktur baru ini nantinya akan berfungsi sebagai ruang terbuka yang bisa di jelajahi dan di rasakan. sebuah ruang kota cuma-cuma yang memberikan sebuah pengalaman berbeda dalam melihat dan merasakan ruas jalan Sultan Agung-Trunojoyo-R.E.Martadinata.

Ruang ruang ini pada dasarnya terbentuk atas ketinggian data data dari kegiatan ekonomi setempat yang membuat seluruh atap ini bergerak dinamis, masing masing pengusaha kemudian sepakat untuk memberikan kontribusi dengan mengisi, mengembangkan dan menjaga ruang-ruang terbuka didepannya.

Hidup kembalinya si monokromatik creaticity

penempatan kantung-kantung aktifitas di beberapa titik ditujukan untuk memberikan tempat-tempat agar warga dapat berhenti dan berkumpul. di kantung-kantung ini juga di sediakan kios-kios kecil untuk men-generate kegiatan.

dengan begini diharapkan ada sebuah keseimbangan di daerah ini, dimana aktifitas kecepatan tinggi seperti berbelanja dan berkendara bertemu dengan aktifitas berkecepatan rendah seperti berjalan, berbincang, dan bengong.

sehingga keseluruhan koridor indie dan mainstream ini dapat bersatu, dan menunjukkan karakter setempat secara meriah menghidupi sebuah koridor yang kreatif.

Danny Wicaksono, Paskalis Khrisno Ayodyantoro, Rafael Arsono

untuk Re Inventing Bandung, Agustus 2008