You are here: Home » Writings » Urbanpsikoanalisis, Dimana Kebahagiaan Kita?
December 16, 2008

Urbanpsikoanalisis, Dimana Kebahagiaan Kita?

[1]

Dentum musik lounge menyeruak dalam ruang besar, sebuah “pabrik sosial” baru menemani malam kali ini. Di temani vista langsung ke bunderan Hotel Indonesia, jendela yang terbuka, di isi oleh manusia manusia yang sedang bersosialisasi, berdiri dengan segelas martini atau bir, bercanda, sebatas hidup dengan masalahnya. Di luar, light trail mengejar silih berganti dari kendaraan yang mengisi sepanjang jalan sudirman, indah seakan menutup mata dari kecarut marutan kota kita.

Bila menilik kota kita mungkin sangat pas bila judul antologi Goenawan Mohamad bisa kita gubah menjadi Jakarta dan hal hal yang tak selesai. Yap! Jakarta selalu saja menawarkan hal hal baru, sebuah dimensi ruang yang selalu bersaing dalam kapital. Pertumbuhan pertumbuhan seakan tak selesai untuk selalu memuaskan kebutuhan manusia yang tiada batasnya, namun segala sesuatu masalah dan pemecahannya selalu berada dalam zona sangat abu-abu sehingga selalu saja menimbulkan dialektika atau polemik yang tak kunjung tuntas.

dalam arsitektur yang berbicara ruang, sebut saja masalah tata ruang perkotaan, banjir, ruang terbuka hijau, manajemen transportasi, kualitas ruang hidup, minimnya ruang publik, dan meningkatnya ruang privat yang tak seimbang bersamaan dengan munculnya gerbang-gerbang pemisah antara arsitektur dan kotanya, sebagai dampak akan ketakutan berlebihan terhadap kotanya sendiri.

semakin pelik, semakin dalam jurang bila kita melihat jakarta sebagai kota. apakah dia hasil sebuah represi historis atau hanya karena kekuatan ekonomi dan politik yang membentuk realitas yang semakin memburuk?

Pertumbuhan ekonomi yang meningkat, dan bertriliyun perputaran uang terjadi di negeri ini tapi, tetapi tidak berdampak pada peningkatan kesejahteraan masyarakat kita, pembangunan baru berkedok peningkatan taraf hidup masyarakat, tidak berdampak pada naiknya tingkat ruang ruang positif di kota kita. Setiap harinya proyek baru bermunculan, tak serta memberikan ruang publik sosial yang positif, dan bisa jadi meningkatnya geng geng, tawuran, terbentuknya ruang ruang milik “suku tertentu” dan meningkatnya kekerasan menjadi akibat dari perebutan ruang-ruang fisik publik yang terbatas, belum lagi tingkat stress yang terjadi karena kepadatan kota yang menyebabkan tingginya persaingan ekonomi, dan kesemrawutan kota seperti stress karena kemacetan. terlebih menurut infokito.com pada tahun 2007 diantara 32 propinsi, Jakarta menempati urutan pertama pada jumlah rata-rata kekerasan pada anak.

bila kita kutip dari filsuf modern Merleau Ponty dari tulisan romo mangun, tentang jiwa yang “mendiami” tubuh, dikatakan bahwa manusia tumbuh bersamaan dengan benda benda, terlebih tumbuh dalam ruang dan waktu, maka arsitektur kemudian menandai jaman dan sebagai penanda nilai suatu bangsa pada jamannya. Dalam kesimpulannya maka arsitektur menjadi sebuah perwujudan jiwa bagi yang membuat dan yang mendiaminya.

inilah jakarta, segenap jiwa arsitek dan dalang yang ada dibelakangnya. sebuah megapolitan besar yang kini terkonotasikan sebagai pusat kriminal, dan sumber disintegrasi.

[2]

Represi dan masyarakat kota jakarta bisa jadi sudah memasuki fase psikopat, dimana sepertinya kekerasan menjadi hal yang sangat lumrah di jalanan, pertengkaran bahkan tindak kejahatan merajalela menjadi sesuatu yang lazim. Perkembangan ini mungkin rasanya bisa berakibat karena hasil keburukan hasil desain dan berakibat pada pola hidup yang salah.

“Arsitek merancang kota, mengubah wajah kota, mengukir permukaan tanah kota. Jika kota atau perumahan tidak disediakan trotoar atau jalur khusus sepeda, itu kesalahan arsitek. Arsiteklah yang menyebabkan warga kota menggunakan kendaraan bermotor untuk jarak pendek karena tidak ada trotoar atau jalur sepeda. Arsiteklah yang mensterilkan kota dari pejalan kaki dan pengendara sepeda. Arsiteklah yang membuat kota boros energi dan mengemisi banyak CO2.” ditekankan oleh Tri Harso Karyono, Guru Besar Jurusan Arsitektur Universitas Taruma Negara.

Perkembangan ini semakin menjelaskan bahwa kota kita benar benar dalam kota yang sakit, terjadinya urbanisasi yang tak terbendung menyebabkan meningkatnya kepadatan kota yang semakin menjadi, dan terlebih kita adalah aktor besar bersama aktor-aktor lain yang tidak peka terhadap masalah ini.

Arsitektur sebagai penghuni kota menjadi terasa sesak, menjadi salah ketika ia tidak dapat menjadi rumah yang nyaman bagi para penghuninya, bahkan kota ini, bila diandaikan dengan meningkatnya kekerasan, ke-disintegrasian, dan meningkatnya masalah sosial dan psikologis kota, bisa jadi kota kita sekarang dalam tahap sick city syndrome, seperti dalam bangunan, kota kita menyebabkan penduduknya menjadi manusia manusia sakit baik fisik dan mental, menjadi psikopat psikopat yang terus bersaing dengan manusia lain, karena kesalahan desain dan carut marutnya fisik kota kita menaungi penduduknya.

beban hidup yang tinggi dari kelangkaan ruang, tingkat stress karena waktu tempuh perjalanan dari bintaro – tanah abang hampir sama dengan jakarta – bandung, maraknya tingkat kejahatan, adakah kebahagiaan yang bisa kita capai dalam kota kita?

atau justru kita biarkan kota kita merepresif kebudayaan dan psikologi masyarakat kita, menunggu sebuah bahaya laten menghancurkan isinya menjadi kota mati?

[3]

Selama ini tempat memang menentukan dan mempengaruhi bagaimana manusia yang hidup didalamnya terbentuk. Walaupun ekonomi memang mempengaruhi kenyataan sosial kita, namun menurut Abraham Maslow, ekonomi hanya faktor penentu kebahagiaan paling basic (dasar), masih banyak pemenuhan diri dalam psikologi manusia untuk menuju kebahagiaan, seperti diperhatikan sesamanya, merasa aman, dan lain sebagainya,

Dalam sebuah penelitian, Richard Florida menemukan hubungan yang erat bagaimana sebuah tempat dapat menentukan banyak kebahagiaan seseorang. Dalam penelitiaannya setiap kota memiliki satu rata rata yang dapat disimpulkan memiliki sebuah kepribadian. Yang mengejutkan, kota kota besar yang beban pekerjaan dan kepadatan yang tinggi seperti New York, dan daerah industrial sepanjang Pittsburgh hingga Cincinnati termasuk dalam kota yang secara emosional tidak stabil, impulsif, dan tingkat stress yang tinggi.

Dalam penelitiannya Florida lebih lanjut menjelaskan, sama seperti teori Maslow, kota juga memiliki segitiga kebutuhan psikologis, dimulai dari yang paling dasar, adalah pemenuhan kebutuhan fisik seperti keamanan ekonomi; di ikuti oleh ketersediaan pelayananan publik dasar seperti sekolah, rumah, pelayanan kesehatan, jalan, dan transportasi, yang ketiga adalah adanya ruang publik; lalu level keterbukaan, dan toleransi penduduknya; dan yang terakhir adalah estetika, termasuk keindahan kota, dan adanya pelayanan kebudayaan.

Maka tak dipungkiri lagi, bahwa sebenarnya tempat telah membentuk kepribadian dan kebahagiaan manusia yang menempatinya, tidak melulu berdasarkan tingkat pemenuhan ekonomi. Daniel Kahneman, Pemenang Nobel 2002 dari Universitas Princeton dalam bahasan “Behavioral Economics” menambahkan bahwa pengukuran tingkat kekayaan, tidak menunjukkan kenyataan masyarakat pada keseluruhannya, justru bagi yang mempelajari masalah kebahagiaan menemukan bahwa hubungan yang baik dengan sesama, dan mengerjakan sesuatu yang memiliki tujuan dan apa yang kita kerjakan dengan semangat yang tinggi adalah esensi kebahagiaan.

studi-studi ini akhirnya menentukan bahwa semua keputusan penting “dimana kita tinggal”, apa yang akan kita kerjakan dan dan bersama siapa akan menentukan bagaimana kehidupan kita akan berjalan, dan bagaimana kota dan arsitektur kita terbentuk akan membentuk kepribadian dan kebahagiaan manusia yang berada di dalamnya.

[4]

Richard florida dalam bukunya “who’s your city?” mengatakan bahwa “where” atau tempat pilihan hidup adalah pertanyaan penting dalam hidup manusia setelah “what” (ingin menjadi apa) dan “who” (dengan siapa kita akan melanjutkan hidup). Tempat termasuk kota menjadi tempat terpenting dalam hidup manusia karena akan menentukan kehidupannya kemudian, kota akan memberikan kehidupan, memberikan peluang kerja, memberikan jodoh, memberikan iklim berkembang, berkeluarga dan berprofesi, ia menentukan bagaimana kebahagiaan kita pada masa depan.

Bila masih dieratkan dengan teori Maslow-nya Richard, maka tempat khususnya kota sebaiknya dapat merangkum kebutuhan psikologis kota seperti keindahan, kecantikan, kebersihan, dan ruang ruang urban yang bersahabat.

Kota harus dapat menyediakan tempat tempat dimana manusia satu dengan yang lainnya dapat bertemu dalam ruang publik yang baik, tanpa takut dengan keadaan sekitarnya, sebuah ruang ruang sosial yang bukan lagi dalam bentuk maya dalam internet atau mall sebagai ruang kapitalis yang berkedok ruang publik karena pada dasarnya manusia butuh bersingungan dengan sesamanya, untuk merasa di perhatikan, dan bersosialisasi.

Kota harus dapat menyediakan tempat tempat yang menyediakan area kebudayaan, karena manusia akan selalu berbudaya dan menghasilkan sesuatu, tempat-tempat kebudayaan ini justru memberikan sumbangsih terhadap perkembangan dan kebudayaan kota, dan dapat memicu perkembangan ekonomi, tempat yang mewadahi kreatifitas penghuninya.

kota harus dapat memenuhi kebutuhan fasilitas dasarnya seperti ketersediaan sekolah, rumah sakit, perumahan dan lain sebagainya,

kota harus dapat menjadi kota yang terbuka dan bertoleransi tinggi untuk membiarkan kreatifitas tumbuh berkembang dengan baik,

kota harus memiliki pemimpin yang baik, karena pemimpin yang baik akan menuntun kotanya kearah yang lebih baik dan menumbuhkan rasa percaya penduduknya.

dan terakhir adalah kota harus Smart, Aman, dan Hijau. Kota diharapkan dapat memberikan komunitas yang bersemangat dan cemerlang dengan menyediakan lapangan pekerjaan, kesempatan sekolah, menjadi tempat yang menyenangkan untuk hidup, tinggal dan bekerja. tempat juga harus dibentuk oleh ruang ruang hijau dan publik yang merat dan bagaimana seluruh komponen dapat adil digunakan bagi siapa saja baik dari anak anak hinggal para lanjut usia.

Tempat khususnya kota memang sebaiknya secara terbuka membiarkan kita dengan bebas mengekspresikan diri kita, mengambil bagian dalam bagian yang lebih besar. Tempat yang menyediakan ruang ruang untuk menemukan diri kita dan mengaktulisasikan diri kita untuk menyadari potensi dan mimpi kita. Menambah arti hidup dan pemenuhan kehidupan kita.

Mengutip pesan arsitek Avianti Armandto tell the truth, I don’t care about Singapore, I don’t care about America, I don’t care about you guys, because, honestly, when the crisis really hit you, you won’t care about anything else but your own ass.”

Ekonomi hanyalah satu realitas pembentuk hidup dan kebahagiaan, saya sendiri akan berada dalam pilihan menentukan hidup saya sendiri dahulu, dan kemudian bagaimana sebagai seorang arsitek dapat dengan peka melihat kebutuhan kota kita yang mempunyai dampak ke kehidupan dan kebahagiaan orang lain.

Walaupun memang kapitalisme berperan besar dalam kebahagiaan dan membentuk realitas sosial kita, mari kita ciptakan kebahagiaan dalam kota kita!

Paskalis Khrisno Ayodyantoro
Bintaro, 16 desember 2008

This entry was posted in Writings and tagged , . Bookmark the permalink.

Comments are closed.