April 13, 2009

racau bagian a.

[1]

Anak anak kecil berlari riang, dalam tawa mereka bersendau gurau, mengejar silih berganti, bermain dalam keriangan dan kepolosan.

pada satu jaman, masih teringat satu ruang dalam kampung ini terasa menyenangkan. tempat yang riuh dengan canda gurau, setiap sore setiap manusia berlalu mudik dengan kesibukannya entah berloncat ria bermain voli, mengejar silih merebut satu bola dalam tanding sepak bola kampung di lapangan yang tak terlalu kotak, memang agak menyamping dan miring rupanya lapangan itu, disudut lain, beberapa anak kecil berteriak sambil bermain layangan.

woi tarik tarik tarik!!! ulur ulur!!

sore yang teduh tersebut, sebuah lapangan dengan tanah merah dimana rumput malu menjuntai sesak karena terinjak injak manusia gembul diatasnya tampak ramai, di isi dengan beberapa warga dari rukun warga atau tetangga sebelah yang ingin sekedar bersantai, bertemu, atau hanya bermain, sebagai media sosial, bertemunya dan tempat berkumpulnya pasangan pasangan muda yang baru, berkenalan, sapa, tersenyum, lalu tampak bergandengan.

pohon trembesi tampak meneduhi tak jauh dari lapangan kecil dan padat ini, disana sudah berjongkok dan berduduk duduk ibu ibu berbincang, bercanda, sambil mengawasi anaknya yang berlarian bersamaan dengan riuh rendahnya kepadatan lapangan tersebut.

dengan turunnya matahari ditemani dengan meredupnya merah matahari sebelah barat, adzan maghrib pun bersautan, manusia manusia ini pun kembali, lelah bersantai dan berkumpul berolahraga, kembali ke peraduannya kerumah masing masing untuk kembali dalam lingkaran keluarganya.

Kemudian lambat laun rekam jejak ingat itu memudar dalam waktu, ketika sebuah ruang lapang menjadi satu saksi bisu yang terus berdiri semakin usang termakan waktu semakin terhimpit dengan merasuknya pembangunan rumah kontrak..

sepetak, dua petak, semakin himpit dan semakin hilang ketika seorang kaya membeli seluruhnya dan menjadikannya sebagai rumah besar, baru saja dibelinya dari seorang betawi yang ingin mengawini anaknya yang bertemu di ladang ini.

[2]

Negara hanyalah tujuan untuk merangkum seluruh keinginan bangsanya sebagai bangsa yang merdeka, dan eksistensinya adalah penduduknya untuk memiliki kemampuan dan dapat mencapai tujuan bersama.

apa yang menjadi keuntungan kita bagi manusia indonesia yang hidup sekarang adalah bahwa kita hidup dari darah perjuangan dengan bambu dan celurit, dari primordialisme yang akhirnya terdobrak dengan pedidikan untuk menuntut kebebasan dan kesetaraan seluruh suku, ras dan agama. Bangsa ini memang masih sangat baru, ketika sebuah bangsa yang berdiri dengan loncatan jaman megalitik menuju modern. ketika sebuah negara subur sarat bencana membuat kita sebagai bangsa yang selalu memulai segala sesuatu dari awal karena letak geografis kita.

kita dan negara akan menjadi sebuah kehancuran bila akhirnya budaya dikesampingkan, bila akhirnya tujuan globalisme didasarkan atas semata keinginan internasionalisme, mengikuti perkembangan diluar sana tanpa melihat bagaimana kayanya negara kita.

budaya telah terbukti menciptakan peningkatan martabat dan kecantikan sebuah bangsa, dimana kecantikan dan martabat akhirnya menumbuhkan sifat kebanggaan dahsyat untuk bersaing dalam dunia global yang semakin datar dan terjangkau. Kebebasan dan, kemenangan dan kedamaian kita adalah ketika budaya dapat bertahan dan menjadi dasar rakyat berjalan.

keyakinan bahwa setiap manusia berpikir dan berkomunitas menciptakan budaya tidak dapat ditinggalkan dan harusnya menjadi keunggulan dibanding dengan negara lain.

Indonesia adalah rahmat Tuhan yang sangat indah, dengan kekuatan daratan dan lautan, dengan iklim yang sangat adaptable bagi seluruh rakyat dunia, tempat dimana kita tidak akan mati hanya karena sebuah cuaca, negara dengan iklim yang dapat diterima oleh seluruh penduduk dunia. Negara dengan seluruh kekayaan didalamnya. seluruh sumber makanan dan seluruh sumber daya untuk hidup ada semua di negara kita tanpa kita harus cari dari tempat lain diseluruh negeri ini.

satu yang perlu kita lakukan adalah, bahwa kita tidak dapat menyatukan seluruh negara ini dalam satu suku, agama, terlebih ras, justru sebuah rasa nasionalis, kebanggaan untuk berbeda, untuk selalu meningkatkan budaya yang sudah terasah oleh jaman dan mengembagkannya sebagai kekuatan kita yang dahsyat! dan akhirnya dapat memproduksi budaya baru, ilmu pengetahuan baru yang justru dapat dinikmati seluruh anak negeri.

bangsa ini bukan bangsa satu agama, bukan negara satu suku, bukan satu ras, negara ini terbukti hasil inkulturasi dari seluruh pengaruh.

ini saatnya kita maju, dengan bangsa besar, bangsa yang berbudaya bukan karena kita mendapatkannya secara cuma cuma , tetapi karena perjuangan setiap keturunan untuk tetap hidup berasimilasi dan mengembangkan budaya yang pantas pada jamannya, tidak semena atas dorongan doktrin dan propaganda hidup modern ala dunia barat atau satu ajaran agama tertentu!

[3]

Pendidikan Arsitektur berkembang, terus mencari jatinya, termasuk dengan masyarakat kita yang terus berkutat dengan perkembangan negeri yang mencari jatinya. Lalu apakah arsitek dapat mempengaruhi jumlah banyak manusia, mendorong perkembangan kota bahkan menjadi simbol perubahan?

Arsitek mengukir bumi ini dengan lingkungan binaannya, bagi sebagian arsitek yang besar timbul karena pemikirannya terhadap pemahaman ruang yang baru, bagaimana ruang dapat mempengaruhi baik pengguna maupun penglihatnya. apakah arsitektur kemudian dapat menjadi “visual massage”, sebuah bangunan yang dapat memanjakan mata penglihatnya sebagai suatu keindahan.

Arsitektur adalah gabungan teknik dan estetika sebagai ilmu yang merangkum segala ilmu pengetahuan yang tak sekadar pemenuhan fisik manusia layaknya pangan dan sandang. Arsitektur adalah ilmu yang mempengaruhi hidup manusia.

kita sudah seharusnya bergerak, bukan lagi mempromosikan sebuah kota atau sebuah perusahaan semata, namun sebuah dunia ide yang ideal tentang lingkungan yang baru tentang budaya baru dalam bentuk realitas yang pantas untuk menjadikan lingkungan kita yang lebih baik. Sudah sepantasnya bangunan tak lagi meninggalkan jejak alien semata, sebuah arsitektur yang autis yang hanya menunjukkan betapa “briliannya” sang desainer.

Arsitektur tidak lagi tentang ego arsitek semata, hanya menunjukkan tanda dari sang penciptanya.

dengan perkembangannya, arsitektur mengisi globalisasi dengan caranya sendiri.

kita sadar akhirnya arsitektur kemudian berdiri bukan sekadar hal estetika dan teknikal, tetapi lebih dari itu dia membawa pesan budaya, sebuah produk kebudayaan.

propaganda sosial.

[epilog]

yahoo messenger pun membuka, dalam ketuk tangan mengetik, lalu pembicaraan singkat berlanjut..
minggu 29.03.2009 15.23 pm

binxxxxx_xxxxxxx : yuu
logxx : apanya yuk?
binxxxxx_xxxxxxx : jadi bagaimana menggabungkan seluruh paragraf diatas menjadi satu kesatuan?
logxx : semuanya bisa dipisahkan dan digabungkan ada saatnya kita memisah dan menggabungkan tergantung kebutuhan yang dicapai
binxxxxx_xxxxxxx : jadi ga pa pa?
logxx : iya
binxxxxx_xxxxxxx : lalu bagaimanakah dia bisa dipahami sebagai kesatuan ?
logxx : pemikiran tidak akan menghasilkan sesuatu yang hidup sebelum seluruh pemikiran itu menjadi sebuah gerakan perjuangan dan menjadi komunitas.
binxxxxx_xxxxxxx : salahnya?
logxx : ketika ke egoisan menjadi ketamakan dan menganggap salah satunya menjadi unsur yang tertinggi dan sebagai jalan pintas menuju kemapanan.
binxxxxx_xxxxxxx : gw jadi bingung
logxx : gapapa bingung adalah salah satu jalan untuk memahami hal, paling tidak semua terangkum dalam contoh yang mudah dimengerti
binxxxxx_xxxxxxx : apakah itu tidak menyebabkan menjadi cetek?
logxx : …
binxxxxx_xxxxxxx : …
logxx : mari bangun ….

Paskalis Khrisno Ayodyantoro
Bintaro, Senin 13 April 2009