April 9, 2010

deus ex machina MkII

Dalam perkembangan keilmuan dan kesenian, pada dasarnya manusia adalah pencari kepuasan diri. Sebuah proses dalam usaha pemenuhan dasar hidup.

Deus ex Machina_MkII from bincang2_cupleez on Vimeo.

Bermula dari nomadisme hidup yang terantuk pemenuhan kebutuhan dasar, manusia kemudian berevolusi hingga mampu menetap pada suatu lingkup, mendomestifikasi dirinya sendiri, seperti prinsip ekonomi buta demi meminimalisir usaha, guna mendapatkan keuntungan, memenuhi seluruh kebutuhannya dengan usaha yang minim. Cara hidup dan budaya ini kemudian mempengaruhi perkembangan sejarah dan teknologi, sebuah prilaku yang baru, usaha-usaha baru untuk terus mempermudah hidup, mencipta dan berkreasi meminimalkan gerak.

Manusia yang dulunya biadab, kemudian menjadi beradab, menciptakan kebudayaannya sendiri, menciptakan perilaku, budaya dan aturan yang mengatur hubungannya dengan sesama. Manusia lebih lanjut lagi menciptakan teknologi sebagai perayaan kemudahan dalam berbudaya, mengatur hubungan manusia dengan segala sesuatu. Mengatur untuk mencipta sesuatu.

Bahkan realitas.

Tuhan yang sebelumnya adalah pokok pikiran yang lahir dari kemandekan dan keterbatasan akal akan sesuatu yang tak terjelaskan, kini perlahan beralih, perlahan terganti, karena mencipta adalah kemudahan.

Manusia menjadi Tuhan bagi dirinya sendiri.

Teknologi menggantikan cara Tuhan mencipta, me reka kejadian-kejadian, menjawab pertanyaan. Hidup menjadi maya, ilmu, budaya, dan seni mengekornya.

Google = alkitab?
Facebook = ruang publik?
Wiki = sekolah?
Televisi = hiburan?

Rasanya telah terjadi kemandekkan proses budaya dalam tubuh bangsa ini. Proses yg dulunya sedang berkembang kemudian tergerus oleh produk-produk yang di inkulturasikan secara paksa oleh para pembawa sistem kepercayaan baru. Produk kebudayaan yang akhirnya dipaksakan ke dalam kepercayaan kita sebagai satu gaya hidup baru, satu perubahan yang selalu dipercaya secara mentah membawa peningkatan kualitas hidup kita.

Inilah kita, pada jaman di mana manusia diperkosa oleh orang-orang yang memiliki kekuatan teknologi. Diperkosa, karena kita dipaksa untuk menikmati, tanpa bisa memilih, apa yang dihadirkan di dunia.

Teknologi lalu diterjemahkan sebagai pembatas budaya yang mutlak. Menjadi pembatas kebebasan berkehendak melalui dogma-dogma yang senada.

Bisa kah kita kembali menjadi Tuhan bagi diri kita sendiri?

Melenyapkan kekangan sang pemerkosa, menjadikan kita sebagai penentu kembali?

Membebaskannya?

Apa pilihannya?

Media

Kardus – Kaca – Mika

Kardus yang dibentuk sebagai pelingkup instalasi video serta animasi interaktif yang merangkul teknologi, justru bertindak sebagai antitesis dari teknologi melalui petanda yang dirangkum oleh material yang terbentuk dari bahan-bahan alami namun melalui proses manipulasi ekstensif sehingga mengalterasi karakteristik fisiknya secara utuh.

Kaca sebagai media sentuh yang menghubungkan penyiar informasi dengan pengamat yang menerima informasi, berlaku sebagai bidang pembatas transparan yang membebaskan pertukaran ide.

Mika sebagai objek yang difungsikan sebagai perpanjangan kehendak bebas pengamat, ditafsirkan

sebagai bidang ide yang dapat saja bertumpuk dan saling berkolaborasi membentuk ide baru yang saling mengisi. Pertukaran ide tidak lagi melalui suatu jalur linear yang stagnan, namun menjadi lebih cair serta memungkinkan tumbuhnya area abu-abu yang lebih sarat makna.

Video Interaktif

Menampilkan penyederhanaan stereotipe karakter manusia muda yang mudah ditemukan pada media informasi modern. Sisi interaktif dari karya video, berusaha menampik kenyataan bagaimana konsumen tidak diberi hak suara untuk menentukan karakter dari informasi yang diterima. Pilihan yang tersedia tetap dibatasi (agar tetap sesuai dengan kebutuhan penyiar informasi untuk menyampaikan suatu ide spesifik) sehingga terjadi komunikasi timbal-balik yang berlanjut.

Audio

Gospelmaschine. Lagu ini diawali dengan bebunyian synthesizer yang ditimpali oleh dentingan gitar sendu. Unsur gospel diraih dengan digunakannya suara church organ untuk mengawal suara synthesizer di awal. Penggunaan sedikit tabla di awal juga mengedepankan sedikit unsur world music yang dipadu dengan ketukan 1/4 notasi dari drum. Ketukan drum yang kedua, didistorsi pada untuk menggambarkan unsur kejiwaan manusia yang terkadang terdistorsi oleh godaan godaan nafsu.

Whimsical Revenge. Dirunut dari judulnya, kita bisa membayangkan, bahwa betapa Tuhan itu senang sekali bermain-main dengan nasib manusia, sampai tidak jarang ada yang berpikir bahwa ia dendam pada manusia. Nada-nada yang sedikit “playful” namun diiringi oleh bassline yang bernuansa noir dan bebunyian synthesizer ber-tremolo (agar membawa nuansa mesin dan pembayangan masa depan). Sayatan string yang menusuk digunakan sebagai “sindiran” atas televisi.

Kotakotak merupakan wadah kolektif kolaboratif yang berupaya mengolah rupa, gerak, suara,menjadi suatu bentuk inovasi media yang memadukan rangsang-rangsang terpisah menjad suatu bentuk gubahan rangsang baru dengan memberi pengalaman lengkap akan dunia yang terbentuk dari kombinasi tanpa batas antar kosakata rangsang yang mampu diserap oleh indra.

Kotakotak terdiri dari Assa Nuraga, Baskoro Gondokusumo, Davey Pinanda Araeza Sagala, Paskalis Khrisno Ayodyantoro, Peter Charles Tambuwun, Rama Adhitya, & Sukmaji Hanindyo Kumoro.

talent : inez melodia, valia rahma