May 9, 2010

Urbane Fellowship Program dan setelahnya.

Buat temen2 Urbane fellowhsip Program (UFP), alumni finalis dan yang baru saja menang, UFP memberikan satu contoh untuk kita satu jalur baru, dimana budaya menulis menjadikan kita lebih menghargai sejarah yang bisa di pelajari oleh generasi kita selanjutnya didukung dengan karya yang sejalan dengan apa yang kita tulis.
 
sebagai lulusan UFP, ada hal yang mendorong kita untuk terus berkompetitif, dalam hal ini ada kreatifitas, kita menjadi peka dengan sebuah pengalaman untuk lebih kreatif, memacu adrenalin, dan mendorong kita untuk kritis dengan hal yang kita tekuni sekarang, dan Perjalanan itu menjadi salah satu ajang eksperimen untuk membuktikan, membuka wawasan tentang apa yang telah kita pelajari dengan kejadian atau pengalaman yang nyata. teori yang harus kita tes, dengan pengalaman indera.
 
2008 silam, setelah perjalanan, Saya, bersama artiandi dan finalis lainnya terbukti menjadi teman2 yang kritis, dalam diskursus arsitektur dan lintas kreatif lainnya yang membuka cakra tentang bagaimana kita melihat arsitektur dan kota sebagai kreatifitas yang tidak terbatas. Artiandi membuktikan dengan perjalanan 2 tahun “aftermathnya” atau apa yang dia lakukan setelah euro trip 2 tahun lalu membuka wawasan, tentang semangat kreatif didorong oleh ridwan kamil dan tentu komunitas lain yang powerful mendorong dan membidani sebuah komunitas kreatif yang menjadikan bandung kota kreatif, menyentak seluruh indonesia bahkan jajaran pemerintah bahwa ekonomi kreatif adalah peluang besar untuk revolusi kebudayaan
andioohh.jpg
tidak berhenti disitu, lewat majalah arsitektur dan kota pop kulturnya membuatnya mudah dipahami dalam konteks masyarakat muda.
 
dalam workshop yang di usung oleh british council, yang kami ikuti di edinburgh, ternyata proses pengerjaan, proses bertemu orang dari negara lain, memberikan hasil yang berbeda, memberikan inspirasi, bahwa kami bisa melakukan ini di negara kita, bahwa metode partisipatif, metode menghargai karya, menjadikan kekuatan kreatifitas tetap berjalan. kebebasan adalah kata kunci. pertemuan pertemuan kemudian memberikan ilham untuk selalu terbuka dengan lintas disiplin lain.
 
saya dan andi 2008 lalu baru saja memulai dalam usia yang muda, mencoba mengetes dalam konteks yang berbeda dengan jalan yang berbeda, menemukan semangat dan inspirasi yang membuat kami berpikir bahwa “hey, Indonesia tidak kalah dengan negara lain”
 
kami pun memulai hal yang sama, publikasi tertulis, dengan format yang berbeda, keterbukaan komunitas dengan komunitas lain sehingga mengawamkan arsitektur dan kota menjadi lebih (semoga) mudah di mengerti, ada proses partisipatif komunitas yang tinggi, membuktikan bahwa kita tidak berjalan sendiri, ada kesepahaman, bahwa sahabat sahabat komunitas akan selalu menjadi teman setia untuk mengetes diskursus.
 
kami berdua percaya dengan melakukan lintas profesi tanpa harus selalu inscest dengan jurusan kami masing masing, kami menemukan satu hal baru yang bisa menciptakan teman baru, komunitas baru, bahkan sebuah cara baru untuk melihat arsitektur dari sisi lain, seperti misalnya fotografi, grafik desain, sosial budaya, biologi, atau new media art. membuka tentang melihat profesi kita di tengah masyarakat yang super plural.
 
bahkan malalui kompetisi, adalah cara kami selanjutnya untuk memahami sejauh mana kreatifitas kami bisa di uji, terbukti dengan jumlah kami mengikuti kompetisi setelahnya, bukan jumlah kemenangan yang akhirnya membelajarkan diri kami, tapi bagaimana belajar untuk mengerti kemampuan diri dan terus berkreatifitas dalam kompetisi yang sehat.
 
Hey, ini bukan saja untuk UFP, banyak jalan menuju Roma, dan UFP adalah salah satunya. Yang terpenting adalah inspirasi untuk melanjutkan, Melanjutkan Inspirasi agar tetap berjalan, dan buatlah versi anda, menyentuh dan menginspirasi orang lain.
 
bintaro, minggu, 9 mei 2010