January 21, 2014

Setahun, catatan febuari 2013

IMG_3963-1-8 sec at f - 4,0-ISO 1250-EF70-200mm f-2.8L USM-Canon EOS 6D
 
hari hari ini, selama 3 bulan ini saya tidak bisa tidur nyenyak. terbangun berkali kali setiap malam. mengutip GM, saya berpikir ulang tentang moral dan etika. sebagai arsitek
 
dimulai tentang cuwit @aviantiarmand; “arsitek adalah generalis yang paham seluruh masalah komprehensif”. apakah ini menjadikan arsitek maha tau masalah? “Arsitek yg baik coba cari pemecahan masalah dan tdk melpskan diri dr tgg jwb dgn bilang, “Ini di luar kapasitas saya.””-Avianti armand. apakah kemudian para arsitek/perencana kota bisa disalahkan tunggal secara profesi dengan semrawutnya kota kita?
 
arsitektur adalah lingkungan binaan manusia. memberikan solusi hubungan fisik manusia terhadap tempat(geografis), sejalan dengan sistem sosial kebutuhan meningkat. seiring waktu, manusia membutuhkan konsensus tanda/simbol/bahasa sehingga bisa dalam satu sistem yang membuat hidup berdampingan. begitu pun arsitektur. dengan semaraknya tanda, identitas dibutuhkan, termasuk dengan arsitektur. sehingga manusia dapat menempatkan dirinya dalam komunitas yang sama, diakui. aman
 
dalam waktu yang serba cepat, kecepatan adalah kemajuan, kekuatan/kecepatan menggeser kekuatan/pengetahuan. hidup dengan gaya konsumerisme kini dinilai dengan uang/produksi. sukses dinilai dengan kecepatan. begitu halnya dengan twitter dan facebook. kecepatan dan keseketikaan informasi adalah keunggulan media tsb. kecepatan memberikan kepuasan. apa bedanya kemudian publikasi di media sosial dengan media blog atau media pameran internasional? usaha berlebihan kah?
 
dunia yang datar karena teknologi informasi ini, kemudian di pakai sebagai jejaring informasi-seketika tentang arsitektur. informasi bertebaran dengan tanda2nya. jejaring informasi kemudian digunakan arsitek meluaskan fungsinya sebagai; tempat diskusi, kritik, tempat promosi, propaganda, dan lain sebagainya. lalu apakah dengan membagi informasi di media keseketikaan tsb berefek membuat kita serta merta ter-kenal, apakah dengan ter-kenal harus memuaskan banyak orang dan sempurna dan menimbulkan makna buruk karena “ter”-kenal? apa salahnya dengan sengaja atau tidak sengaja ter-kenal?
 
hari hari ini, dalam kecepatan dan budaya konsumerisme, kita dituntut untuk terus berproduksi. praktikalitas ditantang dengan arus permukaan untuk di bangun. membaca adalah kemewahan bagi yang berpraktek. Membangun adalah kemewahan bagi akademisi. tidak ada yang sempurna, pandangan/teori ideal dan praktek ideal. praktek menemukan masalah realitas tumpang tindih yang tidak tertulis dalam teori dan butuh solusi praktis. dan teori menemukan masalah yang begitu kompleks dan tidak ada yang sempurna menyelesaikan satu hal.
 
sayangnya, dalam arus kecepatan, tanda dan makna oleh arsitek kadang melampaui batas kenyataan. informasi menyesatkan fungsi. arsitektur seringkali menjadi fetisisme komoditi. arsitektur menjadi produk dengan pesona yang sesungguhnya tidak ada. isu menjadi informasi, kepalsuan menjadi kebenaran.
 
lalu? bagaimana kita bersikap dunia yang semakin datar dan kemajuan dinilai dengan kecepatan?
 
katanya, arsitek yang baik akan menghasilkan arsitektur yang baik, berikut juga dengan profesi lain. desainer yang baik menghasilkan produk yang baik. Lalu apakah dengan berkarya baik, lalu kita boleh me”nilai” orang lain lebih buruk? apakah dengan menghina arsitek lain atau media lain, kita lebih baik?
 
apakah hanya dengan jujur memberikan informasi obyektif(yg membatasi) arsitektur sudah baik? dimana posisi estetika dan hiburan di jelaskan? apakah estetika dasar(pengaruh dari alam) sudah ketinggalan jaman? atau seperti misalnya pastice dengan meminjam idiom klasik-dorik hingga bangunan-kotak-lubang-terkenal tidak baik?
 
apa itu orginalitas dan kitch, ditengah budaya konsumtif yang mengglobal?
 
jadi kebaikan adalah diatas desain yang baik? lalu, seberapa baikkah baik? dalam konsensus sosial yang selalu berubah?
 
apa yang terjadi akan matinya makna di dunia?
 
saya membayangkan berada di tengah gurun pasir. apa yang baik?
 
saya masih mencerna