June 2, 2016

F.A.B Mei 2016

kita berada dalam krisis diskursus arsitektur, dimana hilangnya perdebatan arsitektur yang mendasar seperti ketika adanya perubahan dari pre-modern ke modern, dari modern ke postmodern. Ketika manifesto dan konsep bertebaran di debat dan di tes dalam bentuk keterbangunan. Kini, arsitektur seperti lepas ke segala arah mengikuti kondisi ekonomi pasar dan arus globalisasi. Karya kontemporer sibuk dengan permainan geometri. Pilihannya sekedar semakin rumit atau semakin sederhana dengan material tertentu tapi tanpa makna yang mendalam. Makna ‘baru’ hari-hari ini adalah tentang permainan tersebut.
 
Arsitektur berdiri sendiri, bermain dalam ego geometri atau mungkin phallus centris, yang berpusat atau menginginkan dirinya superior terhadap sekitarnya. Arsitektur kehilangan konteks, karena banyak dari bangunannya bisa di letakkan dimana saja. Bentuk yang hadir tanpa korelasi dengan konteks bahkan banyak yang lepas tak memperkuat kota atau lingkungan tempat ia berdiri.
 
Arsitektur hanya permainan tanda, bentuk dan visual. Ia tidak di pikirkan sebagai permainan emosi manusia. Tapak hanya menjadi kanvas bentuk yang sekedar di lihat secara 3 dimensional tanpa menstimulasi indera tubuh kita. sibuk dalam desain komunikasi visual atau bentuk tanpa makna secara keruangan. Dengan segala teknologi 3 dimensi dan perangkat manipulasi gambar, kita lebih banyak berkutat lewat citra-citra spektakuler karena dorongan pasar. Arsitektur Bukan sekedar produk citra-citra sukses seorang arsitek di media sosial dengan citra rendering atau hasil photoshop yang spektakuler.
 
Arsitektur adalah kerja keras kontemplasi dalam bentuk gambar desain, bertemu dengan klien dan masyarakat, bernegosiasi dan bekerja sama dengan pihak banyak menjadi satu bangunan utuh. Arsitektur bukan sekedar tulisan dan citra yang menggugah, ia perlu menjadi satu ruang-ruang yang menggugah emosi dan hati dari gotong royong tersebut. Perbedaan ini yang mungkin bisa menjembatani budaya kita. Pemahaman Bauhaus yang mengenalkan arsitek sebagai pemimpin karena bangunan adalah seni, Arsitek menjadikan pelukis dan pemahat ada di bawah kendalinya. Arsitek terjebak akan kemuliaannya menjadi pemimpin atas semua bidang dibawahnya yang mewujudkan arsitektur yang divisikan. Maka itu arsitek dituntut menjadi pekerjaan mulia yang secara etika untuk tidak menjadi ponggah. Arsitektur di Indonesia perlu disesuaikan, agar arsitek kembali menjadi bagian dari masyarakat atau pihak-pihak lain dengan visi yang sama menyatukan bangunan sebagai kesatuan yang kompleks. Bagian penting yang bisa bergotong-royong. Arsitektur di Indonesia tidak sekedar hasil proses pabrik dan produksi, dia adalah tangan-tangan ketukangan yang seringkali tak rasional.
 
Kita perlu optimis, karena kita hidup di masyarakat dengan tradisi yang unik dan kuat. Kita memiliki eksotisme budaya yang bisa menjadi inspirasi pendidikan arsitektur yang bisa berkembang sesuai dengan tempat. Kekayaan yang disaat negara lain di banyak tempat berubah menjadi kota yang semakin generik dan anonim.
 
Tapi saya beruntung, karena kita berprofesi dalam pertemanan dan kesetiakawanan yang timbul karena kegundahan bersama. Bukan karena dalam pencarian posisi untuk mencari keuntungan pribadi. Sahabat minum kopi atau makan martabak bersama dalam segala diskusi dari gosip hingga etika keprofesian.