You are here: Home » Mlakumlaku » Jepang, 2017
April 2, 2017

Jepang, 2017

aku ingin mengingatmu, seperti musim semi yang hadir, ketika waktu yang sempit, menggugurkan kembang sakura
 
Perjalanan ke jepang tahun ini, 2017 lebih banyak lingkungan dan budaya Jepang bersamaan dengan waktu mekarnya bunga sakura. Rute perjalanan tahun ini ; Tokyo – Kanazawa – Shirakawa Go – Kyoto – Tokyo
 
Perjalanan ke Jepang, adalah perjalanan yang selalu menyenangkan, karena mudahnya informasi tentang transportasi, tempat yang bisa di kunjungi dan keramahan manusia jepang. Walaupun orang-orang jepang tidak paham sepenuhnya bahasa lain selain jepang, mereka berusaha menolong orang luar jepang dengan tulus. Papan-papan informasi di jepang menggunakan bahasa Jepang dan Inggris, walaupun beberapa tempat sekarang menempatkan bahasa China karena mungkin naiknya jumlah pengunjung turis dari negara Tiongkok.
 
Setelah tahun 2013 lalu, 2017 ini saya menyempatkan ke Kyoto agak lama dan menyempatkan kembali ke Shirakawa-go di Perfektur Gifu dari Kanazawa. Selain karena ingin melihat keindahan beberapa kota Utama di Jepang ketika mekarnya bunga sakura, saya ingin melihat bagaimana rumah Gassho-Zukuri-salah satu rumah vernakular ketika salju. Area Shirakawa-Go dalam beberapa tulisan, disebutkan area tersebut dengan rumah-rumah adatnya bisa bertahan karena telatnya pembangunan jalan raya hingga tahun 1950-an. Terlambatnya pembangunan akses ke Shirakawa-Go karena pada bulan-bulan desember hingga febuari mendapatkan salju yang lebat. Shirakawa-Go adalah salah satu tempat di Jepang yang termasuk tempat dengan salju yang lebat bahkan hingga 5 meter ketinggiannya. Pada musim panas, seperti jepang pada umumnya, memiliki panas yang tinggi, dan lembab, sehingga lantai-lantai bangunan tradisional tidak menyentuh tanah agar udara bisa mengalir. Orang jepang bercocok tanam pada musim non salju kemudian mengisi persediaan makanan di bawah atap. Atap yang miring 45-60 derajat dibuat untuk memudahkan salju turun tidak mengendap di atap. pada bulan-bulan bersalju, mereka mengisi waktunya dengan membuat mesiu, membuat kerajinan tenun. Untuk menghindari salju yang tinggi ketika musim salju masuk kerumah, karena dinding utama mereka menggunakan elemen kertas untuk meneruskan matahari kedalam rumah, makan orang-orang shirakawa-go menenun lembaran kayu sebagai tameng.
 


 

This entry was posted in Mlakumlaku. Bookmark the permalink.

Comments are closed.