You are here: Home » Mlakumlaku » Asmat, Rumah Je, dan Arsitek Indonesia
May 4, 2018

Asmat, Rumah Je, dan Arsitek Indonesia

Agustus 2016
1
Hamparan karpet hijau bertabur kapas putih terpecah oleh liuk-liukan coklat cair adalah kenangan yang masih melekat di kenangan saya saat ini. Pemandangan tadi menggambarkan hutan yg masih sangat lebat dengan gumpalan awan-awan di atasnya dan terbelah oleh sungai-sungai yg besar berwarna cokelat. Mereka adalah pemandangan dari jendela kecil di pesawat pilatus yang berisi 8 orang. Pesawat kecil berbaling-baling depan ini adalah salah satu penerbangan perintis menuju kota Agats. Penerbangan satu jam yg cukup tenang ini terasa tidak membosankan. Saya baru saja meninggalkan bandara Ewer di Agats, daerah Asmat, Papua menuju kota Timika dan melanjutkan perjalanan menuju Jakarta.
 
Agats adalah kota kecil di selatan papua. Kota Agats terletak diantara kota besar Merauke dan Timika. Pada masa lalu, agats adalah sebuah kota dengan rumah-rumah kayu berpanggung di hubungkan oleh kanal kanal kecil. Kano atau kapal kecil menjadi satu-satunya transportasi untuk berpindah dari satu tempat ke tempat lain. Sekarang kota Agats adalah kota dengan bangunan lengkap dengan jalan-jalan yang melayang. Seluruh kota agats berada di atas tanah rawa rawa yang pada situasi air besar (pasang) pada bulan-bulan penghujan desember-januari bisa memiliki perbedaan 8 meter dengan saat air kecil(surut).
 
Agats adalah pintu atau gerbang menuju tempat tempat yang di diami oleh Suku asmat di sekitarnya.
 
2
 
3 hari lalu kami singgah di Kampung Er dan kampung Sawa di barat laut kota Agats. Ada sekitar 12 rumpun kecil suku asmat yg mengelilingi kota Agats baik dari pinggir laut hingga daerah korowai yg agak tinggi. Kami tertarik dengan bangunan panjang yang bernama Je. Di kampung Er dan Kampung Sawa terdapat masing masing sebuah Je yang mewadahi beberapa klan dalam rumah tersebut.
 
tak berapa lama lalu, kepercayaan suku asmat sebagian besar adalah animisme dan dinamisme. Orang asmat menurut Pastor Zegwaard seorang misionaris di Asmat, percaya bahwa mereka berasal dari Fumeripits (Sang Pencipta) yang terdampar di pantai dalam keadaan sekarat. Namun nyawanya di selamatkan oleh sekelompok burung hingga pulih. Kemudian dia karena kesepian di tempat baru, membuat sebuah rumah panjang yang di isi oleh patung-patung ukirannya sendiri. Karena masih merasa kesepian ia membuat sebuah tifa yang ditabuhkan setiap hari. Ajaibnya tifa ini menggerakkan patung yang ia buat dan menjadi manusia menari-nari mengikuti irama tabuhan tifa. Sejak itu, Fumeripits berkelana dan membuat rumah panjang baru dan menciptakan manusia-manusia yang tersebar di asmat seperti saat ini.
 
Menurut tradisi, rumah utama orang suku Asmat terbagi menjadi dua macam. Rumah bujang atau Je, Jew, Jeu atau Yai yang di tempati oleh para pemuda bujang yang belum menikah. Bangunan ini dibangun diatas tiang kayu setinggi melebihi pasang tertinggi di kawasannya dan di bangun dengan panjang mengikut tungku-tungku berderet yang mewakili perwakilan klan hingga mencapai 50-80 meter dengan lebar 8-10 meter. Bangunan ini dibangun dan digunakan untuk musyawarah merencanakan suatu pesta, perang dan perdamaian. Pada waktu-waktu lain, bangunan ini digunakan untuk mengajarkan pendidikan dasar hidup dari orang tua ke anak serta digunakan untuk menceritakan cerita-cerita suci para leluhur. Dahulu setiap klan keluarga memiliki satu rumah bujang yang menghadap langsung ke sungai atau kanal sebagai satu-satunya akses transportasi.
 
bangunan lainnya adalah rumah keluarga yang didiami oleh keluarga inti, ayah, istri dan anak-anaknya. Setiap istri memiliki dapur. Ada satu lagi bangunan sementara dimana orang asmat mendirikan tempat tinggal sementara ketika mencari bahan makanan atau bahan bangunan di hutan yang dinamakan Bivak. Sama seperti Je, bangunan rumah keluarga di bangun dari kayu yang ada disekitar lingkungan, susunan daun sagu sebagai atap, dan gaba-gaba sagu sebagai dinding rumah dan anyaman daun sagu sebagai tikar. Secara bahan, Bangunan tradisi asmat memiliki daur ekologis yang baik. Tidak menyisakan sampah yang tak terserap bumi.
 
Je, pada masa lalu adalah sebuah balai desa dimana seluruh warga kampung membicarakan masalah kampung. Rumah Bujang terbagi menjadi 2 bagian Aipmu yang dipimpin oleh kepala Aipmu yang biasanya adalah kepala perang atau pimpinan adat yang ahli dalam bidang tertentu seperti ahli pencerita dongeng (tareyatakam-ipit), ahli pelantun lagu (so-ipit), ahli penabuh tifa (em-ipit), atau ahli seniman pahat patung (Wow-ipit). Sedangkan satu Je sendiri memiliki kepala Je yang di akui kekuasaannya berdasarkan pengaruh dan kemampuannya dalam banyak hal.
 
karena kondisi sebagian besar daerah Asmat adalah tanah rawa dan lumpur, ruang untuk kegiatan bersama ada di dalam Je. Je sebagai pusat komunitas digunakan untuk meneruskan pendidikan dasar termasuk adat istiadat asmat dan menentukan Upacara penting. Upacara penting itu seperti upacara kematian, upacara pembuatan tifa, pesta ulat sagu, upacara perahu lesung (tsyimbu), Upacara pembuatan patung leluhur (Mbismbu), dan upacara pembuatan Je (Yentpokmbu) itu sendiri.
 
Bisa di bilang bangunan Je adalah pusat kehidupan dan hidup berkomunitas Suku Asmat. Je adalah wadah tradisi untuk meneruskan ke generasi selanjutnya. Je itu sendiri mendefinisi Asmat.
 
3
 
Hari-hari ini orang Suku Asmat mempertanyakan kembali identitas. Modernisasi, munculnya kepercayaan baru dan pengaruh budaya luar turut serta mengubah budaya mereka. Dalam pertemuan dengan para tetua adat April 2016 lalu, para tetua adat mengeluhkan perubahan dinamika karena hilangnya Je sebagai tempat meneruskan tradisi Asmat. Je yang dahulu merupakan wadah komunitas berkumpul dan tempat untuk bermusyawarah mufakat kini hilang. Anak muda kini bersekolah, kampung berubah menjadi kota, masyarakat semakin individual dan bergantung pada pasar atau kapital. Je banyak di bakar pada saat kolonialisasi berlangsung baik pada saat penjajahan belanda dan pada saat proses masuknya Papua ke Indonesia. Je di bakar karena dianggap sebagai pusat tempat penentuan perang dan di anggap budaya yang tidak beradab.
 
Je yang dahulu diletakkan di tengah-tengah klan kini di letakkan di tengah kampung. Orientasi yang dahulu menghadap ke sungai atau kanal kini berubah ke arah jalan-jalan linear setapak melayang yang di kenalkan oleh para pendatang. Sekolah modern menggantikan pendidikan dasar yang biasanya di lakukan lewat pendongengan atau penabuhan tifa dari tua-tua ke generasi muda. Sayangnya pendidikan yang di berikan oleh sekolah modern tidak diimbangi dengan pemberian pendidikan tradisi adat istiadat yang melekat selama ini oleh orang Asmat.
 
Telah banyak preseden dimana kebudayaan dengan mudah dihilangkan dengan paksa. Satu generasi yg terserabut dari kebudayannya cukup membuat generasi selanjutnya hidup tanpa tradisi atau kebudayaan yg telah terbentuk sebelumnya. pilihannya kemudian adalah Menjadi generasi yg gamang atau generasi generik yang ikut arus perubahan dari tawaran penguasa saat itu.
 
Perubahan dan hilangnya budaya banyak disebabkan oleh kekuasaan yang merasa diri atau budayanya lebih superior daripada yang sudah ada. Kolonialisasi, perubahan kepercayaan, perubahan teknologi informasi dan transportasi, dan konflik horizontal yg berhubungan dengan SARA adalah beberapa alasan perubahan budaya terjadi.
 
4
 
Kita seperti masyarakat Asmat bergulat dengan masa depannya sendiri. Beberapa orang asmat merasa kehilangan identitasnya ketika bangunan yang menjadi tempat membentuk karakter dan budayanya hilang. Budaya yang di ajarkan secara turun temurun perlahan hilang bersama dengan berkurangnya aktifitas adat yang biasanya terlaksana di bangunan tersebut hilang.
 
keberadaan dan pembangunan rumah adat yang dikerjakan secara gotong royong oleh masyarakat terbukti menjadi salah satu cara bagaimana tradisi terus dilangsungkan dan di temurunkan. Proses pembangunan mengingatkan fungsi penting tatanan sosial masyarakat dan bagaimana rumah adat menyatukan masyarakat lewat manajemen konstruksi bergotong royong dan melanggengkan praktek tradisi yang terbentuk dalam masyakarat.
 
Di Ratenggaro, Waerebo, Wamena, Nias, Toba, Karo, pembangunan kembali rumah adat yg semakin hilang tradisinya adalah satu cara mempertahankan getok tular. Menularkan pengetahuan lewat praktik. Bila Sang arsitek modern mengembangkan keprofesian lewat magang dan pengalaman membangun di tempat arsitek senior, maka pengembangan arsitektur vernakular lewat pembangunan kembali secara bergotong royong adalah salah satu cara. Cara meneruskan pengalaman dan pengembangan tradisi budaya membangun arsitektur di lingkungan setempatnya ke generasi muda termasuk generasi muda di kalangan akademisi.
 
Pembangunan arsitektur vernakular yang terus hidup dalam masyarakat dan keterlibatan profesi arsitek tidak hanya memperpanjang perkembangan pengetahuan sosial budaya tetapi juga salah satu pendidikan bagaimana arsitek memahami fungsi dasar arsitektur yang melayani masyarakat banyak dan arsitektur yang teruji hidup dengan baik berdampingan dengan lingkungan alamnya.
 
Rasanya inilah saatnya bagi arsitek indonesia, menggali nilai nilai tak hanya dari pendidikan dan praktek membangun modern yg acapkali “taken for granted” dari pendidikan atau produk impor. Kita sering kali tidak menghargai nilai dari suatu pendidikan atau hal karena sudah sangat biasa terjadi. Kita bahkan juga seringkali memahami proses tradisi berarsitektur di lingkungan kita yang telah terbentuk dan teruji beratus tahun secara trial and error hanyalah produk masa lalu yang sudah usang.
 
Tidak ada yang salah dengan pendidikan modern dan menjadi arsitek modern. Bagi saya, memahami potensi lingkungan masing-masing tempat dan mendengarkan masyarakat lewat belajar membangun arsitektur vernakular bisa menjadi kekuatan bagi kita sebagai Arsitek Indonesia yang terlihat semakin gamang ketika di dera arus globalisasi yang semakin generik. Arsitektur vernakular adalah inspirasi pemecahan masalah bagaimana arsitektur menggunakan potensi sosial dan lingkungan sekitar secara efisien dan tuntas secara ekologis tanpa melupakan bubuhan subyektif yang indah. Terlebih arsitektur vernakular di Indonesia seringkali menjadi contoh arsitektur yang tanggap bencana.
 
Bagi saya juga inilah tugas arsitek modern di Indonesia. Memahami dan mengembangkan inspirasi arsitektur vernakular dengan perubahan arus globalisasi baik teknologi dan material baru hingga gaya hidup yang terus berubah.
 


 
Foto-foto Pameran “Asmat Melihat Dunia”, Kerjasama antara Rumahasuh dan YWCAN, Mei 2018
 

 

This entry was posted in Mlakumlaku. Bookmark the permalink.

Comments are closed.