Yogyakarta, Menuju Kota Budaya Bertaraf Internasional

[1]

Puluhan orang sibuk mengamati dan dengan penasaran mencoba memegang benda-benda yang entah namanya apa. Benda-benda ini seperti Sepeda Jadi-jadian. Mereka berwarna-warni, memiliki roda tetapi bukan kendaraan karena hanya bisa diam di tempat dan digabung dengan elemen asing tak seperti sepeda yang biasa kita lihat. Seorang lain menghampiri, memberitahu bahwa obyek tersebut bisa berinteraksi dengan pengunjungnya. Benda-benda tersebut bisa di sentuh, di genjot, di duduki, di masukkan tangan bahkan di mainkan.
 
benda-benda ini ada di dalam kubah yang menyerupai sebuah bola raksasa yg terpancung di bawahnya. Kubah ini luarnya di pasangi pot-pot tanaman kecil beraneka ragam yang menutup hijau si kubah bola. Tepat ditengah atas kubah ada kaca yang meneruskan cahaya matahari ke dalam ruang di dalamnya. Tepat di bawah kaca tersebut adalah sebuah pohon dan bergerumul padat orang-orang sibuk mengelilinginya.
 
“Mas, mas, iso tolong iki mas, potone aku karo koncoku, nang ngisor-e pohon iki. ojo kelalen mas, keliatan pohon ne.” salah seorang perempuan berpakaian seragam sma menghampiri, memberikan telefon selularnya, meminta bantuan untuk mengambil foto dia dengan temannya dibawah pohon.
 
Pohon ini menjadi daya tarik utama di bawah kubah ini. Pohon ini menjadi padat, bukan sekedar daunnya, tapi ia di gantungi kertas-kertas yang di tulis oleh orang-orang, baik sendiri, beramai-ramai ataupun berpasangan. Isi pesannya pun beraneka ragam tulisan tangan seperti “semoga sukses”, “mba yoko (ora) ono” dan lain sebagainya. Salah seorang pasangan ketika ditanya menuliskan apa, mereka hanya senyum tersipu-sipu, tidak menjawab tetapi dengan tertawa cekikian menulis isinya dan dengan serius meletakkan kertasnya di ranting paling atas sambil bergendongan dan berlalu. iseng mengintip kertasnya. isinya “2016 : kawin.” Tergelak, antara ingin tertawa tetapi terharu juga, pohon ini ternyata memiliki kesan yang beraneka ragam bagi pengunjungnya.
 
Pohon tersebut dalam keterangannya adalah “Pohon Harapan” atau “wish tree” yang dibuat oleh seniman Yoko Ono dari Jepang. Ono membuat pohon itu sebagai salah satu propaganda anti perang lewat seni. Pohon harapan adalah karya seni interaktif dimana pengunjung bisa menuliskan harapannya di pohon dan di gantungkan ke ranting-ranting pohon. Setiap kertas yang di gantung kemudian akan dibawa ke Iceland dan dikuburkan bersama jutaan harapan manusia dari seluruh dunia di bawah menara mimpi kedamaian, tempat dimana mimpi John Lennon lewat lagunya mencari kedamaian di dunia di wadahi. Selain pohon harapan, Ono juga mengirimkan karya seni lainnya di ruang lain dalam bangunan ini. Ono memajang lukisan langit. Ia berusaha menyampaikan lewat karya lukisan langitnya bahwa di bumi ketika dan setelah perang dunia kedua berlangsung, bumi terlihat porak poranda, dan yang pasti dan paling indah adalah langit.
 
IMG_1632Canon EOS 6D50 mm1-80 sec at f - 1.8ISO 1600-pkhrisnoa
 
Instalasi seni yg berbentuk seperti sepeda jadi-jadian tadi adalah 10 buah instalasi seperti sepeda yang di buat oleh Dua seniman Indieguerillas yang dipesan untuk pameran. Instalasi seni yang dibuat agar pengunjung bisa berinteraksi langsung dengan karya seninya. Karya-karya ini dan masih banyak lagi dapat kita temukan di Taman Budaya, Yogyakarta dalam Pameran ArtJog ke 8. Namun pameran seni tak hanya di gedung ini. Ya, Yogyakarta sedang merayakan festival seni besar.
 
[2]
 
Artjog adalah sebuah pasar seni yang di gagas oleh Heri Pemad. Artjog adalah sebuah pameran dimana masing-masing senimannya dapat menjual karyanya. Artjog Tahun ini lewat kurator Bambang Witjaksono memiliki tema “Infinity in Flux: The Unending Loop that Bonds the Artist and the Audience”. Tema yang menjadi salah satu gerakan seni setelah perang dunia ke dua ini adalah sebuah anti-art yang melibatkan hubungan yang erat antara karya, seniman, dan penonton. Tema artjog kali ini terinspirasi budaya selfie, mengambil foto diri bersama karya seni adalah sebuah hubungan baru dan menarik antara pengamat dan seni itu sendiri.
 
Mengenal Artjog perlu juga mengenal Heri Pemad, pendiri Artjog. Pemad menceritakan dirinya sendiri sebagai seniman yang tidak lulus kuliah. Ia menekankan bahwa karya adalah hasil utama seorang seniman bukan sekedar ijasah kuliah. Pemad pada tahun-tahun berikutnya merasa sedih karena ada ketimpangan dalam dunia seni, dimana seniman banyak tidak dihargai dengan baik oleh penikmatnya. Pemad sendiri sempat murung dan tidak ingin melukis selama beberapa saat. Pada satu titik, akhirnya Pemad memutuskan untuk mencari metode yang paling baik menghubungkan seniman dengan penikmatnya sekaligus kolektor agar seniman-seniman dapat hidup dengan baik.
 
IMG_1791Canon EOS 6D50 mm1-1000 sec at f - 1.8ISO 6400-pkhrisnoa
 
“aku yo jadi penganter undangan selama 4 tahun buat metain semua kolektor, galeri, dan seniman yang ada di Jogja.” sahutnya sambil tertawa. Selama 4 tahun, Pemad mencari tahu dan mencatat semua alamat-alamat seniman, galeri dan kolektor hingga alamat-alamat seniman yang kadang tidak jelas. “Sampe seniman yang alamatnya di kebun atau jalan raya misalnya Jalan Magelang KM 2, yo kan ga jelas, tapi aku tau semuanya.” Selepas menjadi pengantar undangan, Pemad bermimpi memiliki manajemen seni yang profesional. Sebuah perusahaan profesional yang mengubungkan seniman dengan pembelinya dengan profesional, dari deal, pemasangan, pameran, pembungkusan hingga pengiriman. Dari perusahaan manajemen seni ini Pemad kemudian membuat Art Fair atau pasar seni yang berkembang menjadi saat ini disebut ArtJog. Karena kedekatannya dengan hampir semua seniman di Yogyakarta, salah satu majalah nasional bahkan menyebut Pemad; “Sang Pengendus bakat”
 
Di Yogyakarta, galeri dan seniman menyebar banyak tempat di Yogyakarta dan sekitarnya. Artjog hanya salah satu tempat yang mengadakan pameran. Yogyakarta sedang menyelenggarakan Jogja Artweeks. Jogja Artweeks adalah satu bulan dimana Kota Yogyakarta dan sekitarnya mengadakan perhelatan seni yang di inisiasi lewat kolaborasi dari beragam penggiat seni. Hampir lebih dari 50 pameran dan kegiatan seni bertebaran di seluruh Kota Yogyakarta dan sekitarnya. Di luar yang tercatat oleh ArtWeeks ada kegiatan tak terhitung yang memeriahkan bulan seni ini seperti contohnya seniman jalanan ikut mengisi instalasi seni di sekitar pedestrian Malioboro.
 
[3]
 
Tiada yang lebih menarik mengunjungi Yogyakarta bulan Juni ini. Lebih dari 20 galeri kecil yang menyebar di seluruh kota dengan lebih dari 50 kegiatan seni bertebaran. Sebut saja dari Galeri Ark, Taman Budaya, Jogja National Museum,Galeri Al mini, Rumah Seni cemeti, HONFabLab, Galeri Kedai Kebun, Langgeng Art Space, Langit Art Space, dan lain-lain hingga koleksi mencengangkan di Musium Oei Hong Djien di Magelang.
 
IMG_1865Canon EOS 6D50 mm1-250 sec at f - 1.8ISO 100-pkhrisnoa
 
Yogyakarta kian membenahi dirinya. Kita bisa mengenal Yogyakarta sekarang sebagai kota Budaya. Ada sekitar ribuan seniman tinggal di Yogyakarta, dan tercatat mulai banyak sekolah-sekolah tinggi yang menawarkan jurusan kesenian dari ISI Yogyakarta, Universitas Negeri Yogyakarta (UNY), Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa (UST), hingga Politeknik Seni Yogyakarta. Tidak sampai disitu, industri kreatif di Yogyakarta juga berkembang pesat. Kita bisa melihat galeri-galeri seni, kafe-kafe, hingga studio animasi dan game bertebaran di di Yogyakarta 5 tahun belakangan ini. Tahun 2014 lalu, nilai ekspor industri kreatif Jogya diperkirakan mencapai Rp 2,8 Triliun.
 
Tak heran dari sekian banyak perguruan tinggi seni dan galeri membuahkan seniman yang diakui internasional seperti Eko Prawoto, Nasirun, Butet Kertaradjasa, Djaduk Ferianto, Garin Nugroho, Agus Suwage, WS Rendra, Sheila on 7, Jikustik, Letto Hingga Eko Nugroho yang baru saja berkolaborasi dengan merek fesyen terkenal Louis Vuitton. Tak salah memang menyebut Jogja dengan kota budaya. Kota yang menghasilkan banyak seniman dan produk kreatif kelas internasional.
 
[4]
 
Di sisi lain, sebagai kota yang mendunia, dengan sejarah dan kegiatan kreatifnya, Jogja perlu pembenahan infrastruktur kota untuk mendukung semua kegiatan seninya. Selama 5 tahun ini, rasanya sedikit sekali perbaikan kota yang terbangun. Hotel-hotel menjamur di sekitar Malioboro dan sekitar area dekat alun-alun selatan seperti jalan Prawirotaman dan Tirtodipuran tanpa ada peningkatan kualitas transportasi di dalam kota Yogyakarta. Setiap hari hingga akhir pekan kita bisa merasakan macet merajalela di seluruh kota di dukung oleh jumlah wisatawan khususnya peningkatan jumlah wisatawan domestik yang datang ke Yogyakarta. Tahun 2008 bahkan sempat diprediksi 35% jalanan di Jogja akan mengalami macet total.
 
Pemerintah Yogyakarta sebaiknya bisa melihat bagaimana investasi fasilitas publik bisa menjadi nilai tambah kotanya. Melalui transportasi masal yang menjangkau seluruh tempat sehingga bisa mengurangi jumlah kendaraan di jalanan. Ruang-ruang publik bisa di tingkatkan dengan perabot publiknya sehingga menambah kenyamanan di ruang publik. Pemerintah juga bisa berinvestasi membuat sebuah bangunan museum berskala internasional yang bisa menjadi tempat ekspresi seniman-seniman yang ada di Yogyakarta tanpa melupakan karakter yang telah ada. Seperti kota lain di seluruh dunia, Yogyakarta memiliki bangunan-bangunan bersejarah seperti Keraton dan Candi di sekitar Yogyakarta. Namun museum berskala internasional dengan fasilitasnya dapat menjadi kanvas dan standar baru untuk Yogyakarta, bahkan Indonesia untuk dunia internasional.
 
Pemerintah Daerah Istimewa Yogyakarta juga bisa turut andil dalam pengelolaan tata ruang, sehingga karakter yang telah ada seperti bangunan bangunan berserajah bisa di perkuat dan di kelilingi dengan tata ruang yang tepat untuk mendukung pusatnya. Kita bisa lihat sekarang banyak hotel dan ruko bertebaran, dikomersilkan tanpa adanya keselarasan ketinggian maupun karakter yang berpotensi merusak kota Yogyakarta.
 
Saya masih ingat ketika Yogyakarta penuh dengan mas dan mbak-mbak bersepeda kemana-mana tanpa lupa tersenyum menyapa dengan ramah para pengunjungnya sekitar 20 tahun lalu tanpa polusi. Yogyakarta sekarang tergantikan dengan galeri-galeri kecil, warung-warung, jajanan-jajanan namun padat dengan motor dan kendaraan yang memekakkan tiap hari seperti Jakarta. Saya menikmati berada di galeri, berpindah dan menemukan kesegaran lewat karya-karya seni dan larut dalam diskusi khas manusia yogyakarta melalui kopi dan angkringannya
 
Tapi yang paling tahu tentang rumahnya tentulah masyarakat Jogja sendiri. Manusia jogja telah menciptakan ruang-ruang kreatif unik khas jogja yang saat ini kita alami. Modal awal lewat manusia yang kreatif, lewat seniman-seniman, pelaku kreatif, sudah ada di Yogyakarta. Modal ini perlu disempurnakan lewat kualitas fasilitas Kota Yogyakarta yang bertaraf internasional. Wajah baru yang bersinergi dengan sejarah dan masyarakat Jogja.
 
Disekitar alun-alun utara, bulan ham­pir pur­nama menerangi pikuk­nya orang-orang yang ber­kum­pul di sekitar­nya. Mie godok Pak Pele habis ting­gal mang­kok dan gar­punya. Ayam rica-rica menyisakan manis di lidah. Mie yang dimasak dengan arang ini perlu ditunggu ham­pir satu setengah jam turut menutup tengah malam ini.
 
Memang yang enak adalah yang di persiapkan dengan matang seperti dengan gudeg atau mie godok ini. Mungkin juga sesuai dengan kata orang Jogja. Persiapan yang matang membutuhkan waktu tak sedikit seperti perencanaan kota. Saya bersyukur dalam waktu yang begitu lambat, tidak perlu grusa-grusu ini saya banyak belajar. Belajar seperti ketekunan mas Pemad menjadi pengantar undangan selama 4 tahun yang membuahkan hasil.
 
Alon alon asal klakon.”