March 9, 2016

buta

Aku terdampar diruang ini entah sejak kapan. Tubuhku menggigil. Dingin dengan cepat menjalar ke seluruh tubuh hingga tengkukku merinding. Ruang ini begitu pengap dan dingin. Sekecil-kecil gerakanku, suaranya dengan cepat memantul dari dinding-dindingnya. Sejengkal kira-kira dari nafasku, suara lain mendesah begitu lambat. Ia terasa begitu dekat dan lekat. Aku hanya melihat gelap.
 
Hitam adalah seluruh duniaku. Sejauh aku memandang aku hanya lihat kosong dan hitam. Aku hanya memiliki jemari dan tubuhku untuk merasakan hidup. Hidup yang penuh dengan lekukan dan bising. Tapi disini aku hanya rasakan lekuk yang penuh, geliatan, dan erangan.
 
“Aku haus” sahutnya. Nafasnya begitu dekat. Aku bahkan bisa merasakan hangatnya di mukaku ketika mendesah. Begitu lembab dan eros. Aku beranjak mendekat ke suara tersebut. Lamat-lamat aku merambat. Aku menggapai dia yang mendesah. Aku mengangkat jemariku ke arah lenguhannya. Jemariku tertahan di garis-garis mukanya. Jemariku merambat naik bertemu dengan peluh di sela-sela rambutnya yang sedikit.
 
Lelaki. Begitu mereka menamainya. Aku tak yakin seperti apa rupanya. Jemariku turun merambat. Dalam peluh yang hangat di mukanya aku mendapati buah bibirnya yang keras. Aku tak paham telah berapa lama ia membuka mulutnya. Ibu jariku dibasuhnya basah ketika tertambat di mulutnya, sedangkan jemariku yang lain tertambat di pipinya yang berlekuk tegas. Lelaki itu mengerang. Kemudian dengan tangannya yang kekar dan keras, ia membaringkanku kembali di lantai yang dingin. Aku hanya melihat gelap.
 
Desahnya kini ada di atas tubuhku. Aku terhimpit antara keramik dingin dan tubuhnya yang penuh dan hangat. Tiba-tiba sesuatu mencengkeram buah dadaku dengan kuat. Aku hampir berteriak tapi tak dapat bersuara. Tangannya yang kasar memenuhi buah dadaku. Sekejap putingku yang ranum, basah oleh mulutnya yang himpit. Aku bergetar. “aku, haus” katanya lagi.
 
Dalam gelap yang pekat aku masih berusaha menahan getar dalam tubuhku. Lelaki itu merambat turun dengan lidah terjulur. Aku bergetar semakin hebat. Desahnya yang basah dan hangat kini diantara rerimbunan pangkal pahaku. Aku menggeram. Dengan cekat, lelaki itu membasuh pangkal pahaku dengan lidah dan air liurnya. Nafasnya semakin memburu. Aku merasakan liangku merekah, cair membasahi kedalamannya. Jemarinya dengan cekat menyelipkan berirama bergantian di liangku. Ruangan ini menjadi begitu sempit. Dadaku terasa penuh, sangat. Putingku membusung, gelisah ingin meledak.
 
Lelaki begitulah ia di panggilnya. Ia makhluk dengan dada bidang tak berbuah dan tunas dengan sepasang buah yang menggantung di pangkal pahanya. “kasihanilah aku, aku sangat haus” sahutnya memelas. Peluhnya merekah wangi birahi. Ia beranjak. Aku tak paham. Hanya hitam yang kupandang. Jemarinya merambat ke buah dadaku yang penuh sementara jemari satunya membuka pangkal kakiku dengan perlahan. Tiba-tiba ia menghujam dengan tunas yang meranum di pangkal pahanya. Batang dengan urat-urat keras melesak masuk ke liangku yang himpit dan basah. Sekejap batangnya menjadi basah, berdecak-decak dalam liangku. Melebur antara dahaga dan perih.
 
Aku merasa seluruh mahkluk di dalam ruangan ini menghujatku penuh dengan amarah. Tapi lagi-lagi aku tak paham. Lelaki itu terus menghujam dengan kejantanannya. Pinggulku naik turun mengiyakan aku yang kini terbakar dahaga. Aku bergetar dan meracau tiada henti hingga tiba-tiba benih-benih mengoyak, meluapkan liangku. Tumpah. Ruangan ini menjadi peluh. Begitu pekat, aku ingin berteriak keras. Aku tercekat. Aku Penuh.
 

 
Kamu menyimpan hal-hal yang tidak dapat di mengerti oleh tubuhku. Tapi yang tak dapat di mengerti itu membawa aku melebur. Dunia yang lembut, yang keras, yang peluh, dan yang penuh menjadi sebuah keindahan dan juga bagian dari spiritual. Kamu adalah erotik, yang mendamba, yang sensual, getaran yang membuncah dari tubuh
 
tak ada aku, kamu bahkan tak ada iman. Hanya ada sebuah nyanyian indah tentang perih. Dalam gelap pun aku merasakan penuh.
 

*tulisan singkat ini adalah penulisan ulang “surat tentang Adam-Hawa” di novel saman – Ayu Utami dalam interpretasi yang lain