July 4, 2014

Membangun Rumah Adat Sumba, Membangun Peradaban Dengan Gotong Royong

[1]

 

Heiyaaaaa, heiiiyyaaa, heiyaaa!!!

 

seorang ibu berteriak teriak sambil menari, parasnya tegas namun dengan gemulai melentikkan jari mengayun ke depan dan kebelakang. 2 perempuan yang lebih muda di belakangnya mengikuti gerakkannya dan memekikkan seruan tak kalah lantang. di seberangnya, disambut ibu lain yang menghampirinya, kemudian membuka tas kecilnya dan membagi pinang dan sirih sambil terus berjalan mengantar sang tamu ke depan rumahnya.

 

ibu ibu kemudian beranjak mundur dari keriuhan. seorang lelaki kemudian berteriak teriak sambil mengayunkan pedang berjalan maju, di ikuti oleh 3 rekannya. dibelakang mereka sekitar 20 orang berjejal dengan truk besar beroda belakang 4 perlahan mengikuti perlahan yang sedang menari. Sang penerima tamu tak kalah berteriak dan mengayunkan pedang. Berselang beberapa teriakan, kedua kubu kemudian saling mendekat dan menggesekkan hidung. mengucapkan selamat datang.

 

Orang orang di truk menghambur turun sambil melepas muatan. seekor kerbau sawah belang hitam putih albino dengan tanduk besar di paksa turun oleh sekitar 10 pria. Tak lupa, setelah kerbau, babi bertaring seberat 150 kilogram di tarik turun dari truk dengan susah payah. Dengan sigap sang penerima tamu menerima hewan hewan ini, sambil membagikan sirih pinang, kemudian menggiring hewan tersebut ke kolong rumah. Ratusan orang yang berdiri di sepanjang gang rumah rumah beratap alang ikut bersorak dan berteriak, bergembira.

 

begitulah satu persatu kerabat dan saudara datang, bisa dibilang hampir 1000 orang datang. Dari sekitar kampung, dari bukit dan pantai berdatangan, memberikan simpati dan wujud syukur ke empunya acara.

 

[2]

 

Hari ini adalah upacara masuk rumah di kampung Ratenggaro. Kampung Ratenggaro adalah kampung adat di Kodi, wilayah Kabupaten baru Sumba Barat Daya, Pulau Sumba, Propinsi Nusa Tenggara Timur. Kampung Ratenggaro telah mengalami kebakaran hebat tahun 1964, dan 2004 yang menghabiskan seluruh 32 rumah di kampung.

 

upacara masuk rumah adalah salah satu dari sekian upacara ketika masyarakat suku Kodi membangun rumah. Dimulai dari Musyawarah desa ketika waktu Nyale sekitar bulan febuari. Nyale adalah kegiatan rutin tahunan bagi masyarakat Kodi di Sumba, mengambil cacing laut yang biasanya muncul menandai habisnya musim hujan pada bulan Febuari. kegiatan nyale ini biasanya di iringi dengan musyawarah satu kampung adat yang di hadiri oleh seluruh penduduk kampung. Tujuan musyawarah biasanya untuk menentukan tanggal Pasola/perang Kuda, waktu bercocok tanam, hingga waktu pembangunan rumah.

 

Setelah Musyawarah, kemudian keluarga empunya rumah mencari bahan konstruksi rumah hingga tengah tahun, kemudian dilanjutkan dengan upacara meminta ijin penggunaan bahan bangunan kepada Marapu, sebuah sistem kepercayaan masyarakat Sumba terhadap leluhur. Struktur atap yang besar di rakit terlebih dahulu diatas tanah. Setelah ditentukan tanggal baik untuk memulai konstruksi utama, 4 tiang utama didirikan dan rangka atap utama yang telah dirakit, dipindahkan ke atas struktur tiang utama. Setelah 4 tiang utama hingga rangka utama atap selesai, salah seorang perwakilan keluarga naik ke puncak atap untuk menyempurnakan sambungan konstruksi dan persiapan penutup atap. Seluruh kegiatan konstruksi utama ini dilakukan dalam waktu sehari penuh, dengan bantuan seluruh kampung dan tetangga, sehingga biaya upah makan melalui pemotongan hewan babi dan kerbau bagi yang membantu menjadi efisien.

 

Perlahan masyarakat akan membantu menyempurnakan struktur bangunan keseluruhan. Setelah selesai keseluruhan konstruksi bangunan, upacara selanjutnya adalah tutup atap, yaitu menutup rumah dengan alang alang secara bersama sama. Setelah konstruksi rumah selesai, rumah termasuk dapur belum dapat digunakan sebelum melewati upacara masuk rumah.

 

[3]

 

Membangun rumah adat di Sumba, khususnya Kodi, diperlukan usaha yang tidak sedikit. Upacara yang begitu besar dan bahan konstruksi yang kini semakin langka dan mahal menjadi hambatan warga membangun kembali rumah rumahnya. Masyarakat Ratenggaro pernah kehilangan rumah rumah mereka, terbakar pada tahun 1964 dan dibangun kembali atas dorongan Pak Paulus tahun 1974 perlahan melengkapi seluruh 28 rumah. Tetapi pada tahun 2004 kebakaran kembali melanda menghanguskan seluruh rumah, dan masyarakat yang terbatas ekonomi kesulitan membangunnya kembali.

 

Agustus tahun 2008 rombongan arsitek dari Kantor Yori Antar singgah di Sumba di sela perjalanan tahunan ke pelosok Indonesia. Setelah melihat kondisi kampung yang pernah terfoto dengan rumah rumahnya yang unik dengan atap atap alangnya yang begitu tinggi telah hilang, Yori kemudian merencanakan untuk membantu menghidupkan kembali kampung Ratenggaro. Beruntung pada saat persinggahan tersebut, Yori bertemu dengan Pastor Robet Ramone, seorang pastor Redemtoris yang bermimpi untuk mendirikan pusat informasi kebudayaan Sumba. Robert Ramone adalah putra kelahiran Kodi, selama menjadi pastor, melalui hobinya ia aktif mendokumentasikan seluruh pelosok dan budaya Sumba lewat foto. Karyanya dengan mudah kita temukan, Hampir sebagian besar kartu pos tentang Sumba adalah hasil fotonya.

 

Sejak tahun 2009, Yayasan rumah asuh yang didirikan Yori Antar, mencoba membangun kembali kampung Ratenggaro. Dengan bantuan Rumah asuh, Lewat pertemuan Robert Ramone dengan Ibu Tirto Utomo di Jakarta, Terjadilah kesepakatan untuk membangun 2 buah bangunan modern terinspirasi Rumah adat Sumba, sebagai lembaga pusat studi budaya dan seni Sumba di lokasi tanah milik Gereja redemtoris di Waitabula yang berdekatan dengan bandara baru. Desain bangunan rumah budaya sumba, nama lain dari bangunan tersebut, adalah hasil dari kolaborasi mimpi Robert Ramone dengan tim Rumah Asuh dan disepakati digunakan secara publik bagi siapa saja.

 

Sejalan dengan pembangunan rumah budaya sumba, tahun 2011 Yayasan tirto memulai berpartisipasi menyumbang pembangunan kembali 2 rumah adat penting di ratenggaro. Uma Katoda Kataku, sebagai rumah ketua suku tempat berlangsungnya musyawarah desa, dan Uma Katoda Amaho. Melalui rapat antara tetua adat, Robert ramone, Yayasan Tirto dan Rumah Asuh Di Ratenggaro, telah disepakati bahwa yang membangun adalah masyarakat sendiri dengan bahan dan konstruksi sealami mungkin. Cara donatur menyumbang juga disepakati hanya berpartisipasi menyumbang 4 tiang utama, sehingga masyarakat kampung di dorong oleh tetua adat, turut andil menyumbang rumah rumah tersebut.

 

[4]

 

Pembangunan kembali rumah adat ini menjadi penyemangat kampung Ratenggaro untuk berbenah dan juga kampung kampung adat lainnya di seluruh Sumba dan Indonesia. Sejak berdirinya Rumah Budaya Sumba tahun 2011 yang dikepalai oleh Robert Ramone dan pembangunan kembali 2 rumah adat di Kampung Ratenggaro, kini sudah beberapa rumah dibangun di kampung kampung lain baik digagas oleh masyarakat sendiri dengan usaha sendiri atau dibantu pihak lain.

 

Pembangunan kembali 9 rumah adat sekaligus tahun 2012 melalui Rumah Budaya Sumba di Wainyapu, kampung tetangga ratenggaro berhasil di jalankan bersama. rumah asuh dan Yayasan Tirto sebagai pencetus kini membuahkan beberapa donatur baru seperti perorangan hingga beberapa Perusahaan. Tak lama, tahun 2013-2014, Pemerintah pusat melalui Kementrian pendidikan dan kebudayaan Republik Indonesia , menggunakan dana bansos (bantuan sosial) untuk membantu percepatan pembangunan kembali beberapa rumah adat di beberapa titik, seperti 4 rumah adat di ratenggaro, 2 di kodi , 2 di wainyapu dan 1 di Sumba timur telah selesai dibangun kembali oleh masyarakat sekitar.

 

Rumah asuh sebagai koordinator pelestarian rumah adat, terus berusaha agar tercapainya kemandirian masyarakat yang telah dan akan dibantu. Melalui rumah budaya, misi Rumah asuh agar arsitektur vernakular yang masih hidup dan yang terancam punah, yang tersebar di seluruh Indonesia dapat terus hidup di masyarakat dan didokumentasikan dengan baik. Pembangunan kembali bangunan bangunan oleh masyarakatnya sendiri diharapkan menjadi salah satu pemberdayaan masyarakat, dan menumbuhkan kembali rasa memiliki dan kebanggaan terhadap budaya di masyarakat itu sendiri.

 

Metode pembangunan kembali oleh rumah asuh ini, bisa dipakai siapa saja. Dengan proses mendengarkan masyarakat dan dilakukan oleh masyarakat langsung, ada sebuah pembelajaran budaya kembali bagi rumah asuh, donatur, dan masyarakatnya sendiri. Bersama belajar bagaimana mendirikan rumah dan budayanya sendiri yang hampir hilang dari keseharian mereka. Pembangunan kembali rumah adat mengajarkan kembali budaya dan sejarah arsitektur lewat pengalaman yang hidup, lewat dokumentasi yang baik kemudian dapat digunakan untuk melanjutkan tradisi dan atau berevolusi berarsitektur yang ada di Indonesia.

 

Di satu sisi, pembangunan kembali rumah adat di ratenggaro, melibatkan tak hanya keluarga dan tukang, tetapi juga satu kampung hingga kampung kampung tetangga. Tak berhenti disitu, pembangunan kembali Rumah Adat di Ratenggaro terbukti dapat melibatkan saudara saudara jauh yang ada di luar pulau, di tempat lain, ikut menyumbang dan berpartisipasi. Ia menguatkan tentang kerja sama, bekerja bersama sama.

 

Tentang cara, bagaimana pendahulu kita menumbuhkan dan mengajarkan tradisi sosial membangun kampung. Membangun peradaban secara Gotong Royong.

 

musik : Fajar Judadi