Belajar lewat Infrastektur Nusantara di Labuan Bajo

1

Pohon melambai-lambai di sepanjang perjalanan. Pohon-pohon hujan tropis seperti kemiri dan meranti pekat menghias pemandangan. Beberapa kali tajuk-tajuk hijau terbuka dengan pemandangan sawah yang menghampar hijau dan kuning. Jalan aspal yang seringkali berlubang membuat pak supir harus membuatnya mengerem dan berbelok menghindar. Setelah 7 jam perjalanan dari desa Dintor menembus pinggir pantai dan hutan, jalan kini berubah berkelok-kelok tajam menuruni bukit. Dari kelok-kelok, pemandangan seringkali mencuri kearah laut jauh di barat dengan kepulauan kecil yang menghiasinya. Mobil kadangkali harus berhenti menunggu, karena jalan berkelok ini kadang berlubang, memberi ganti kendaraan lain yang akan lewat. Tak lama setelah ratus kelok, mobil ini berhenti di kampung nelayan yang berada di bawah kaki bukit.

labuan bajo 2008 https://www.facebook.com/groups/1054833421997929/

Hanya ada satu jalan utama di kampung ini. Toko kelontong hanya ada satu di ujung selatan. Rumah makan pun juga hanya satu di tengah jalan utama ini, lokasinya setelah pintu masuk dermaga. Menu rumah makan ini hanya nasi dan ikan kakap merah goreng. Disajikan setelah menunggu ikan disiangi dan digoreng Bersama dengan terong. Sambal disajikan, diulek Bersama dengan menggoreng ikan. Di jalan utama kampung nelayan ini, area belakang rumah langsung berbatasan dengan pantai lengkap dengan tambatan perahu pribadinya. Tak jauh dari jalan utama ini, naik sekitar 2-kilometer keatas terdapat bandara kecil. Bandara dengan atap seng berkarat berbentuk seperti rumah warga yang dibatasi dengan kawat ayam. Tak jarang, penerbangan ke Bali dibatalkan karena kerusakan pesawat yang terbatas.

https://www.facebook.com/groups/1054833421997929/

Lain 2009 lain 2019. Sepuluh tahun berlalu, Labuan Bajo kini menjadi kota yang jauh lebih padat. Di pusat kota sudah banyak terdapat penginapan dan rumah makan. Rumah makan khas Itali sudah tersebar di beberapa lokasi. Rumah penduduk semakin padat dan tinggi, berlomba mendapatkan pemandangan ke laut. Pantai di kampung tengah dan kampung air telah berubah menjadi area reklamasi dan perluasan dermaga untuk mendukung Sail Komodo tahun 2013. Kota Labuan Bajo telah berkembang menjadi kota gerbang masuk para wisatawan sebelum memulai petualangan di pulau Flores. Labuan Bajo juga di kenal sebagai gerbang untuk mencapai ke TNK (Taman Nasional Komodo). Taman nasional komodo sudah terdaftar sebagai situs warisan dunia di Unesco sejak 1991. Keunikan Taman Nasional Komodo adalah binatang endemik kadal raksasa yang hanya bisa ditemukan di Taman Nasional Komodo. Tak hanya keberadaan Komodo saja, tetapi kepulauan Komodo yang berbukit-bukit dengan karakter padang semak dikelilingi pasir putih dan laut biru menjadi daya Tarik tersendiri yang tidak ada duanya di dunia. Tentu bagi para penyelam, laut Komodo terkenal dengan keindahan panorama bawah lautnya.

Labuan Bajo telah ditetapkan menjadi salah satu KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional) pada tahun 2011 bersamaan dengan 88 lokasi lain di seluruh Indonesia. Pemerintah Indonesia bermimpi akan mengembangkan 10 Bali baru dan menetapkan Labuan Bajo sebagai destinasi super prioritas. Destinasi super prioritas adalah contoh pengembangan untuk satu kawasan pariwisata untuk bisa di pelajari metodenya sehingga bisa dirubah, disalin dan disempurnakan metodenya ditempat lain di Indonesia. Presiden Jokowi pada bulan juli 2019 berkunjung ke Labuan Bajo untuk memulai pembangunan peningkatan kualitas kota untuk mendukung kota Labuan Bajo sebagai destinasi super prioritas KSPN.

Tahun 2019 sektor pariwisata menyumbangkan 280 triliun, atau 5.5% dari pendapatan negara. Pendapatan sektor pariwisata tersebut masih di dominasi oleh Bali dan obyek-obyek pariwisata yang sudah ada seperti Candi Borobudur. Sehingga bisa dibayangkan apabila destinasi pariwisata di banyak tempat di Indonesia apabila dikelola secara serius akan meningkatkan pendapatan dan kualitas hidup daerahnya. Bermimpi besar, pemerintah pusat menargetkan kunjungan wisatawan ke Labuan Bajo mencapai 550 ribu turis pada tahun 2025.

2

Tahun 2020 tak disangka pandemi Covid menggempur seluruh dunia. Pengembangan KSPN (Kawasan Strategis Pariwisata Nasional) diharapkan menjadi contoh pengembangan kota yang humanis dan memperbaiki kualitas hidup masyarakatnya lewat infrastruktur sekaligus sebagai contoh pembangunan yang bisa mendorong ketahanan kota terhadap pandemi.

Presiden Jokowi memerintahkan Pak Basuki, Menteri PUPR (Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat) untuk meningkatkan kesiapan kota Labuan Bajo sebagai destinasi super prioritas KSPN. Dengan prinsip Segera, Berubah, dan Berdampak, Pak Basuki segera melakukan Langkah-langkah strategis untuk meningkatkan kualitas kota Labuan Bajo. Tahun 2020 pekerjaan fisik secara besar-besaran telah dimulai dengan ditandainya perbaikan jalan dan trotoar di seluruh kota, Pembangunan penyediaan air bersih lewat peningkatan debit air dari sungai Waemese, Pembangunan pengelolaan sampah akhir di Warloka, Peningkatan kualitas 600 hunian swadaya untuk mendukung pariwisata, peningkatan kawasan destinasi wisata seperti; Kawasan Goa Batu Cermin; Pusat Informasi Wisata Pulau Rinca; dan Pusat informasi Puncak Waringin Hingga penataan Tepian Pantai kota Labuan Bajo untuk mengemBalikan sempadan pantai sebagai ruang publik.

Tujuan pengembangan kota Labuan Bajo bukan hanya sekedar mencapai target jumlah wisatawan, tetapi juga untuk meningkatan kualitas hidup masyarakatnya. Peningkatan kualitas kota ini bertujuan juga untuk menghasilkan interaksi masyarakat terhadap ruang luar kotanya. Kota sejatinya dibangun untuk manusia. Kota yang dibangun dengan memperbanyak area pejalan kaki dan ruang publik akan riuh oleh manusia. Area pejalan kaki dan ruang publik juga perlu ditingkatkan keamanan dan kenyamanan dengan dilengkapinya fasilitas umum seperti tempat duduk, lampu jalan dan kemudahaan untuk penyandang cacat. “We design our city, thereafter the city will design for us” menurut Allan B Jacobs, seorang pakar desainer kota.

Pembangunan infrastruktur di Labuan Bajo bukan sekedar melengkapi kebutuhan utilitas kota tetapi juga berorientasi terhadap kekayaan setempat seperti tradisi, karakter lansekap dan karakter iklim. Bagi Ridwan Kamil seorang gubernur dan perencana kota, kota yang ideal sebaiknya memiliki prinsip “design, density & diversity”. Kota yang terancang baik sejalan dengan kepadatan penduduk dan keragamannya.

Pendekatan terhadap kepadatan dan keragaman ini perlu pendekatan lewat budaya agar infrastruktur yang dibangun sesuai dengan karakter tradisi masyarakat. “Knowledge is power”, kata francis bacon-seorang filsuf yang berpengaruh terhadap revolusi ilmu pengetahuan di Inggris. Kita memiliki pengetahuan yang sangat kaya dan saat ini adalah waktu yang tepat mereposisi bahwa gagasan tradisi kita yang mungkin terlewatkan tetapi sangat bergizi bisa dibawa ke masa kini dan depan.

Salah satunya melalui gagasan arsitektur nusantara. Arsitektur Nusantara bagi saya adalah semangat Renaissance/kelahiran Kembali kebudayaan besar Indonesia. Arsitektur Nusantara adalah semangat berketahanan, mengembangkan kemajemukan dan menguatkan kembali nilai-nilai gagasan tradisi yang baik. Arsitektur Nusantara didasari pada sikap kritis sehingga tidak sekedar mencomot bentuk akhir. Prinsip arsitektur nusantara berupa gagasan-gagasan penyelesaian masalah dalam tradisi yang sudah ada kemudian dikembangkan pada masa kini dan masa depan sehingga bisa menjadi identitas yang kuat. Arsitektur nusantara adalah jalan alternatif untuk mencapai taksu, memecahkan masalah iklim lokal, menjembatani antara pembangunan fisik yang berfungsi juga sebagai puncak kebudayaan Indonesia.

Pembangunan di Labuan Bajo adalah Infrastektur Nusantara. Pembangunan infrastruktur yang di landasi pada desain yang berwawasan tradisi dan kebudayaan.

3

Pembangunan dan peningkatan kualitas Infrastektur kota Labuan Bajo bagi saya menjadi contoh bagaimana kota dibangun untuk bertahan terhadap pandemi dengan bonus kawasan wisata yang terancang apik. Kawasan dan bangunan yang dibangun di Labuan Bajo dibangun dengan beberapa prinsip;

Ruang Publik (dipastikan) milik publik. Sebelum membangun, lokasi-lokasi dipastikan adalah milik pemerintah yang akan digunakan sebagai fasilitas publik. Memastikan status dalam proses ini untuk memastikan bahwa kedepannya ruang atau fasilitas publik bisa di targetkan untuk semua orang tanpa di intervensi oleh pihak lain atau masalah hukum mengenai kepemilikannya.

Visi yang dibuat Bersama dengan seluruh pemangku kepentingan termasuk masyarakat dan komunitas. Komunitas adalah nyawa dari ruang publik, keikutsertaan masyarakat dalam menentukan gagasan dan visinya bisa menjadikan ruangnya akan tepat guna dan digunakan secara aktif.

Terapkan beberapa tujuan atau program. Cara yang paling ampuh untuk menstrukturkan visi adalah dengan menjabarkan dan menentukan program kegiatan atau tempat-tempat tujuan. Masyarakat, komunitas dan pemangku kepentingan lainnya bergabung baik lewat kegiatan workshop atau FGD (Forum Group Discussion) untuk membantu mengidentifikasi destinasi, menentukan kegunaan dan aktifitas yang akan di terapkan.

Menghubungkan tempat atau tujuan dengan taman. Taman sebaiknya tidak berfungsi sebagai alasan utama di ruang publik. Taman yang menjadi ruang terbuka pasif malah meredam aktifitas dan menjadi monoton. Ruang publik yang kaya akan program menjadikannya ruang yang aktif.

Membangun berdasarkan konteks dan eksisting. Membangun sebaiknya berdasarkan pada kondisi fisik seperti karakter lansekap dan tradisi yang ada. Seringkali dengan memanfaatkan identitas lokal, sejarah dan budaya setempat merangsang minat pengguna ke ruang publik dan menjadikannya tempat tersebut unik. Membangun dengan memberikan kesempatan terhadap kesenian lokal, music hingga pertunjukkan di wadahi membantu menarik masyarakat ke ruang public. Pembangunan juga memakai inspirasi identitas lokal seperti tangga bagian dari karakter lansekap, motif-motif lantai, dan karakter bentuk arsitektur setempat.

Kemudahan yang universal. Pisahkan jalur kendaraan dan manusia. Utamakan manusianya terhadap akses ke semua moda baik itu di darat dan air. Pengguna merasa aman dan nyaman ketika memiliki jalur yang di dedikasi oleh manusia dan tidak di intimidasi oleh lalu lintas kendaraan maupun parkir. Dengan mengutamakan jalur manusia menumbuhkan ruang yang riuh dengan aktifitas manusia. Kemudahan akses manusia perlu mempertimbangkan secara universal baik untuk penyandang cacat, anak-anak dan orang tua.

Memberikan kecairan ruang. Ruang publik yang sukses dapat menyesuaikan dengan banyak perubahan terhadap penggunaaan yang berbeda-beda pada waktu yang berbeda. Penjadwalan Program kegiatan dan pengelolaan penggunaan sangat membantu dalam melayani khalayak yang beragam.

Kelengkapan fasilitas kreatif. Ruang publik yang menyenangkan adalah ruang yang di lengkapi dengan fasilitas yang memanjakan penggunanya sehingga merasa aman dan nyaman. Pencahayaan yang baik dapat memperkuat identitas yang menarik perhatian dan mengarahkan pada jalur tertentu. Seni di ruang publik adalah magnet yang luar biasa bagi anak-anak hingga segala usia untuk berkumpul Bersama. Fasilitas kreatif bahkan mendorong interaksi sosial.

Mulai dengan sederhana. Tidak perlu gegap gempita membangun sesuatu yang sangat besar, tetapi bisa di mulai dengan kota yang taktis, lewat pemenuhan fasilitas dasar yang di butuhkan masyarakat seperti ruang terbuka publik yang nyaman, trotor untuk pejalan kaki yang aman. Dengan rancangan yang tepat dan menarik, masyarakat dapat menikmati dan menghargai fasilitas Bersama. Memulai dengan sederhana akan memantik kegiatan-kegiatan oleh masyarakat.

Terakhir adalah Pengelolaan. Pengelolaan sangat penting untuk memastikan ruang publik yang sukses tetap berjalan sukses dengan pengawasan dengan penataan program yang tepat. Organisasi pengelola akan sangat membantu dalam mempertahankan beragam aktifitas dan kegiatan sepanjang hari hingga tahunan. Penerapan yang tepat dan penghasilan yang seimbang akan memastikan kelestarian ruang publik bisa tetap di nikmati masyarakat sepanjang waktu.

4

Infrastektur seperti trotoar yang baik, bangunan dengan proporsi ruang terbuka, ruang hijau dan publik yang terancang dengan baik menjadi senjata ampuh bagi kota untuk bertahan menghadapi pandemic. Tempat yang sebelum pandemi bagi masyarakat sekedar ruang transit atau dilalui, sekarang digunakan untuk berolahraga, melepas penat dan bersosialisasi dengan jarak yang aman-terlebih bagi mereka yang memiliki resiko lebih besar dari isolasi dan infeksi. Masyarakat menjadi lebih menghargai keberadaan dan manfaat ruang terbuka sebagai kebutuhan dasar kesehatan hidup mereka.

Proses pembangunan peningkatan kualitas kota di Labuan Bajo sekaligus mempersiapkan menjadi destinasi super prioritas menjadi alat yang penting ketika pandemi. Pertama adalah ketika pandemi, kegiatan kontruksi tetap berjalan walaupun agak tersendat guna mendukung kegiatan ekonomi masyarakat dengan menggunakan sebanyak-banyaknya tenaga kerja dan material lokal. Kedua, di era setelah pandemi, gagasan untuk memikirkan kembali dan membentuk kembali akses ke infrastruktur hijau menjadi ujian terbesar dari ketahanan kota. Ketiga, hasil dari pembangunan ketika pandemi menjadi kota yang siap menerima wisatawan dengan standar kesehatan yang aman. Keempat, pendekatan arsitektur nusantara memberikan daya tarik tambah bagi wisatawan luar dan menambah rasa kebanggaan dan memiliki bagi masyarakat sekitar untuk menggunakan dan menjaganya.

Memikirkan kembali perencanaan ruang publik akan berdampak pada kesempatan masyarakat untuk menggunakan ruang publik lewat standar kebersihan yang baru. Pengoperasian yang baru akan menghasilkan formula pada kehidupan berkota yang beragam dan memiliki dorongan positif untuk menumbuhkan aspek ekonomi. Pertumbuhan aspek ekonomi setelah pandemi sangat dibutuhkan setelah tersendatnya atau berhenti total kegiatan ekonomi. Kota dengan tersedianya ruang terbuka publik yang memadai, masyarakat dan pemerintah lebih yakin untuk memulai kembali kegiatan ekonominya secara fisik dan lepas dari penguncian tara.

Beberapa prinsip ini digunakan untuk mendukung kawasan kota Labuan Bajo menjadi kota yang berorientasi manusia. Kota Labuan Bajo kemudian dirasakan sebagai kota tepian air dengan program-program yang bisa digunakan masyarakat atau pengunjung menikmati keindahan kota Labuan Bajo lewat ruang publiknya. Bagi saya kota Labuan Bajo adalah cara infrastektur Nusantara bisa dapat diterapkan. Wujud arsitektur dan kawasan yg merefleksikan karakter tradisi dan kebudayaan masyarakat setempat yang responsif terhadap ikim dengan bahan lokal dan konstruksi modern untuk kota yang berketahanan setelah pandemi.

Pemberi tugas : Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat, Direktorat Pengembangan Kawasan Permukiman, Cipta Karya;
Penasehat : Yori Antar;
Arsitek Koordinator : Djuaini, Paskalis Khrisno Ayodyantoro;
Arsitek: Pucak Waringin – Seisy Zakia, Fransiska Gunawan; Goa Batu Cermin-Hafidz, Karina; Pulau Rinca-Fania, Khairul; Penataan Tepian Air-Baptista Christian, Charmawan Purnawiweka, Rizka; Penataan Jalan-Fransiska Gunawan;
Lighting : Danang;
Grafis: Nusae;
Stuktur: Anwar;

About the author