December 25, 2009

bunuh diri elegan di mall

dalam keringat yang dingin, serentak tangan dan tubuh ini membeku.. bibir ini menjadi sangat kering, desah menjadi tersendat.. kemudian dalam beberapa waktu, sekelebat hingar sekeliling menjadi sunyi.
 
hanya beberapa memori menajamkan. detak jantung ini semakin terdengar, berdegub lebih kencang.
 
alasan-alasan semakin menjadi, menekan diri dan pikiran untuk melanjutkan. Tiba tiba bisikan itu terus mengiang. tekanan tekanan pekerjaan dan ekonomi, tekanan keluarga, tekanan pasangan membakar lanjut otak ini bahkan berputar tubuh ini aku hanya melihat nilai uang uang dan uang. Serasa pecah. akhirnya dengan sangat bergetar, aku memegang.
 
dalam hitungan detik, tekad ini sudah dibulatkan.. mungkin memang jalan ini caranya.
 
aku siap!
 
tubuhku memejal dari lantai, terpelanting,
 
baru saja bebas, tiba tiba aku terbesit
 
aku salah!!! erangan dan teriakan kemudian menyadarkan bahwa pilihanku salah dan sulit. aku berteriak!!!
 
dalam sepersekian detik kemudian dengan dorongan gravitasi kulihat lantai berlalu, kupejam, semua bayangan hidup ku sebelumnya seperti pita film yang berlalu cepat mengulang ngulang. air mata ini kemudian menitik, sebelum menitik
 
kepalaku terhempas, pecah membelah dan semua terasa sakit. sangat sakit.. tapi teriakan tidak berarti lagi.. karena hitam menghampiri bersamaan kurasa tulang punggungku melipat dan hancur bersamaan dengan darah yang mengujur di seluruh tubuhku..
 
….
 
gambaran ini menyadarkan, dalam belakangan ini, dalam kurun 16 hari terdapat 5 percobaan bunuh diri dengan tingkat sukses 100 persen dengan cara melompat dari ketinggian ke ruang ruang terbuka, ruang publik.. dan ruang ruang elit seperti mall..
 
bunuh diri seakan menjadi trend di kota kota dunia, terkhusus kota padat dengan tingkat ekonomi yang bergerak pesat dengan perkembangannya yang turut serta membawa dampak pada psikologi manusia yang tinggal di dalamnya..
 
jakarta apalagi mall menjadi tempat ter hype untuk melakukan bunuh diri, terlebih ketika bunuh diri itu dilakukan sebagai simbol ke narsisan, atau statement diri. kelelahan dan depresi bekepanjangan menjadi salah satu hal yang kadang menjerumuskan korban untuk bunuh diri.
 
sebuah perubahan gaya hidup turut menyertakan perubahan cara bunuh diri seseorang, yang biasanya melakukan dalam ketenangan, dalam pesan hati hati, kini di lampirkan dalam kehiruk pikuk kota dalam ruang terbuka yang di saksikan banyak orang dan turut serta memberi dampak trauma pada orang banyak.
 
dalam satu kasus “Dua hari sebelum kejadian, ia juga tidak makan. Ia meminta agar ditemani berjalan-jalan sampai akhirnya terjadi bunuh diri itu (kompas)” disini terlihat ada usaha untuk mencari sebuah kesembuhan, sebuah ketenangan melalui jalan jalan dan menikmati kota. Namun sungguh sayang, mungkin sebegitu sulitnya menemukan tempat di kota kita, kota jakarta menghindari hiruk pikuk, pilihan jatuh kembali pada tempat yang di klaim sebagai tempat relaksasi kota, mall.
 
mall menjadi satu tempat relaksasi. Itulah anggapan beberapa penduduk jakarta. Namun dari kehadiran mall tersebut, ada yang tidak wajar. Karena mall berisi semua kenyamanan, namun juga mengumbar nilai ekonomi, nilai yang tersangkut dalam benak penduduk kota kebanyakan, bahwa mall akan menjadi tempat relaksasi bila kocek kita sesuai dengan tempatnya.
 
anda bisa bermain, anda bisa makan, anda bisa berjalan, namun terintimidasi terhadap ekonomi, ada nilai uang dengan segala kenyamanan yang kita dapat di mall. bahkan mungkin ketika korban mencari ketenangan menelusuri kotanya, akhirnya yang ditemukan adalah satu ruang yang akhirnya mengingatkan kita akan nilai ekonomi, melalui toko toko yang terpampang, melalui produk produk dengan marketing hebat hingga terbenam dalam benak sebagai trend yang harus di ikuti. atau produk produk yang akhirnya mengingatkan tentang nilai ekonomi yang menjadi beban hidup di kota. belanja akhirnya bukan cara yang sehat untuk melepas stress.
 
memang dalam banyak hal, tempat bukan segalanya, masih banyak peran lain yang mempengaruhi kegiatan bunuh diri ini baik dari psikologi, sosial, ekonomi, agama, dan lain sebagainya. Namun perlu disadari juga bahwa kota kita perlu satu tempat bagi penduduknya untuk ber rekreasi, melepas penat pekerjaan, menikmati ruang, tanpa dibebani baik keamanan, baik intimidasi ekonomi dan marketing, hanya tempat untuk duduk, berdiri, berlari, bersosialisasi dan merasakan ketenangan, diluar rumah tuhan yang konon membawa ketenangan juga. mari kita tunggu ruang ruang hijau yang ditargetkan hingga 13 % untuk kota jakarta yang sekarang diklaim telah di realisasi hingga 9.7 % (antaranews)
 
kota kita butuh ruang tersebut.